Hidayatullah.com–Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat H Muhamad Nadratuzzaman Hosen mengaku ada indikasi barang yang jelas-jelas haram ingin dikatakan halal.

“Terhadap produsen yang melakukan hal seperti itu, MUI telah melakukan peneguran,” katanya kepada wartawan di sela-sela acara Workshop On Dairy Product Flavors And Vitamins dan Training On Halal Asurance System di Bogor, Jawa Bara Senin kemarin.

“Kita telah menegur keras kepada mereka, tapi yang berwenang menindak mereka adalah pemerintah. Sudah berapa produsen nakal yang sudah ditegur.”

Dia mengemukakan, sejauh ini peran MUI hanya menangkal barang-barang haram dari produsen agar sampai beredar kepada masyarakat, khususnya umat Islam.

“Sebaliknya, kalau barang dari produsen sudah beredar di masyarakat, maka MUI tidak bertanggung jawab, justru pemerintah yang bertanggung jawab,” katanya.

Pada bagian lain, Muhamad Nadratuzzaman Hosen juga menyatakan bahwa MUI menilai akan sangat keliru jika pemerintah yang mengeluarkan sertifikasi halal, sebab kewenangan mengeluarkan sertifikasi halal adalah MUI, sedangkan tugas pemerintah membuat peraturan atau Undang-undang agar produsen dalam memproduksi barang-barangnya dijamin halal.

“Sejauh ini, saya melihat ada usaha dari pemerintah, dalam hal ini Departemen Agama yang akan mengambil alih peran MUI untuk mengeluarkan sertifikasi halal. Kalau hal ini terjadi jelas sangat keliru,” katanya.

Ia mengatakan bahwa tugas dan kewenangan pemerintah adalah membuat aturan, bukan mengeluarkan sertifikasi halal.

“Artinya, kalau pemerintah sudah membuat aturan, tidak perlu lagi ada sertifikasi halal, sebab produsen maupun konsumen sudah yakin barang yang diproduksinya dijamin halal,” katanya.

Karena itu, kata dia, jangan sampai sertifikat halal menjadi proyek pemerintah, sehingga biarlah kewenangan mengeluarkan sertifikasi halal adalah tugas ulama, dalam hal ini MUI yang sudah melaksanakannya selama 20 tahun.

Mengenai RUU (Rancangan Undang-Undang) Jaminan Produk Halal yang saat ini sedang dibahas di Komisi VIII DPR RI, ia mengatakan, jaminan produk halal diperlukan untuk meyakinkan apa yang dikerjakan oleh MUI dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, karena selama ini tidak ada payung hukum jelas yang dikeluarkan oleh pemerintah, “Jadi, RUU Jaminan Produk Halal bukan untuk mengambil alih peran MUI,” katanya. [ant/www.hidayatullah.com]

Negara-negara internasional telah mengakui bahwa sistem sertifikasi halal yang dimiliki oleh Lembaga Pengkajian Pangan obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI terbaik di dunia. Selain pelaku bisnis yang mengakui, para ulama internasional seperti Imam Besar di Sanghai-Cina sangat salut dengan sistem sertifikasi halal Indonesia. Maka dalam standarisasi produk halal, Cina merujuk pada Indonesia.

Direktur Eksekutif LPPOM-MUI, Ir. Muhamad Nadratuzzaman Hosen, MS, Mec, PhD, menjelaskan, kualitas sertifikasi produk halal di Indonesia sangat berbeda dengan negara lainnya. Sertifikasi produk halal dikeluarkan oleh lembaga independen, kemudian di back up oleh ulama dengan adanya komisi fatwa MUI dan para auditor yang terdiri dari para profesor, dokter dan master dari berbagai universitas. Jadi, kami memang beda.

Lantas seperti apakah sistem sertifikasi produk halal di Indonesia itu, Agus Yuliawan dari pkesinteraktif.com, mewawancarai, Direktur Eksekutif LPPOM-MUI, Ir. Muhamad Nadratuzzaman Hosen, MS, Mec, PhD, saat acara Halal Exhibition di Balai Kartini Jakarta kemarin. Berikut komentarnya:

Hingga saat ini sudah berapa banyak perusahaan produk halal di dunia yang mendapatkan sertifikasi halal?

Untuk saat ini, kami telah melakukan sertifikasi 2800 perusahaan produk halal untuk nasional dan Internasional, untuk perusahaan luar negeri sudah 51% telah tersertifikasi. Mereka adalah perusahaan Cina dimana 80 perusahaan di Cina telah mendapatkan sertifikasi halal dari MUI. Kedepan akan banyak lagi perusahaan Cina yang akan mengajukan sertifikasi, karena mereka merespon positif adanya produk halal tersebut. Dengan adanya Cina sebagai kekuatan baru dalam produk halal akan menjadikan trend perdagangan produk halal akan semakin mengglobal. Kita harus tahu Cina merupakan raksasa besar ekonomi yang lagi bangun tidur dan ingin sejajar dengan negara-negara maju. Realitas ini, kami buktikan dengan beberapa waktu yang lalu saya diundang oleh Imam Besar dari Sanghai Cina untuk menjelaskan tentang sistem sertifikasi halal yang ada di Cina.

Bagaimana pandangan ulama Cina terhadap sertifikasi halal di Indonesia?

Mereka menilai sistem sertifikasi halal di Indonesia yang terbaik karena masuk akal, maka mereka meminta untuk meneruskan sistem sertifikasi itu.

Apa yang menjadikan kekuatan sistem sertifikasi halal Indonesia dibandingkan dengan negara lain?

Dalam sistem sertifikasi produk halal di Indonesia, setelah perusahaan mendapatkan sertifikasi halal, perusahaan bersangkutan harus menunjuk internal auditor, halal solusi dan Standard Operating Procedure (SOP) yang menunjukkan bahwa mereka memiliki komitmen tentang produk halal. Maka itu, perusahaan produk halal harus memiliki komitmen selama 2 tahun untuk menjaga kehalalan produk yang di produksi. Itulah yang disebut dengan halal dalam sistem.

Maksudnya?

Kami ingin semua perusahaan yang mendapatkan sertifikasi produk halal memiliki sistem halal. Jangan sampai kami mengeluarkan sertifikasi halal, mereka seenak sendiri. Dalam LPPOM-MUI sudah ada sistem yaitu dengan menerima hasil laporan perusahaan halal tiap bulannya dan kami bisa melakukan sidak setiap saat. Tapi alangkah baiknya adanya asosiasi produk halal dengan LPPOM melakukan sinergi. Waktu diacara kemarin sudah ada 10 lembaga sertifikasi halal dunia yang terdiri dari 8 lembaga dari Amerika dan 2 lembaga Eropa belajar dengan kami.

Sebenarnya apa keinginan MUI membuat sistem halal yang begitu lengkap itu?

Kami ingin mengintegrasikan halal sistem tersebut dengan standarisasi ISO dan standarisasi lainya. Perlu diketahui Indonesia merupakan satu-satunya negara yang memiliki standarisasi sistem seperti itu.

Kualitas dalam sistem halal MUI itu dimana?

Ada dua, pertama kita di back up oleh ulama dengan adanya komisi fatwa MUI. Kedua, para auditor yang terdiri dari profesor, doktor dan master dari berbagai universitas. Jadi kita memang beda. Sedangkan lembaga sertifikasi negara lain adalah lembaga swasta, perusahaan hanya memiliki auditor satu atau dua orang saja dan tidak memiliki lembaga ulama. Di dunia ada dua negara yang melakukan sertifikasi halal oleh negara, yaitu Malaysia dan Brunei. Sedangkan di Indonesia pemerintah tidak terlibat.

Berarti jika dibandingkan dengan negara lain, LPPOM-MUI merupakan lembaga Independen?

Iya. LPPOM-MUI merupakan lembaga independent dan tak bisa diintervensi oleh pemerintah dan politik mengenai yang halal jadi haram dan sebaliknya. Kami di LPPOM-MUI tidak mau diintervensi dan kami sangat bebas.

Apa manfaat posisi Independensi tersebut?

Dengan adanya independensi tersebut, LPPOM-MUI selalu menjadi leader dari lembaga sertifikasi lainya. Perlu Anda ketahui bahwa negara-negara lain selalu memantau tentang bagaimana perkembangan dari fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh MUI.

Apa keinginan dari MUI dalam mengkampanyekan produk halal ini?

Saya sangat percaya dalam halal produk ini sudah ada 60 ribu produk-produk perusahaan yang telah tersertifikasi. Maka, saya rasa di dunia ini kita bisa meng-create halal trade di Indonesia. Maka kami dari MUI memimpikan berdirinya halal supermarket di Indonesia. Jika belum, kami berharap agar supermarket saat ini memiliki stand khusus untuk produk halal. Sehingga produk halal semakin jelas dan tidak tercampur dengan produk haram.

Apakah hal ini sudah dikomunikasikan dengan Departemen lain khususnya Departemen Perdagangan?

Saya terlalu capek mengkomunikasikan ini. Saya selalu berbicara pada Departemen Perdagangan untuk mengerti tentang masalah ini. Menteri dan para Dirjen belum pada paham soal tentang produk halal ini. Mereka selalu mengkonotasikan soal halal adalah soal agama. Padahal tidak. Halal merupalan trend global. Halal bukan bicara agama Islam tapi sebuah trend global.

Lantas apa harapan Anda kedepan dengan adanya produk halal ini?

Perlu diketahui bahwa adanya produk halal ini merupakan fenomena global yang tak bisa kita pungkiri dan produk halal bisa dijadikan komoditas untuk menarik para investor Timur Tengah dan lainnya untuk masuk dalam investasi yang halal. Maka itu dalam memperkuat posisi investasi tersebut diperlukan instrumen berupa lembaga keuangan Islam sebagai pengelola dana investasi itu. Maka harapan kami kedepan adalah bagaimana membangun image antara Islamic Finance dan halal trade baik skala nasional maupun internasional.

Sumber: http://www.pkesinteraktif.com

JAKARTA – Prospek pasar dari produk pangan halal terbilang amat cerah. Menurut Mentan Anton Apriyantono, sedikitnya 1,6 milyar Muslim membutuhkan pangan halal dengan nilai lebih dari 600 milyar dolar AS. Di Eropa saja terdapat sekitar 30 juta Muslim punya daya beli tinggi terhadap aneka pangan halal.

Berbicara dalam Seminar Nasional MUI bertema “Urgensi Sertifikasi Halal Dalam Merebut Pasar Nasional dan Pasar Global” di Hotel Sultan Jakarta, Rabu (28/2), Mentan melukiskan dalam sepuluh tahun ke depan, pemasaran produk halal di Asia akan berlipat dua. Khusus di Indonesia, Cina, pakistan dan India, menurut Global Food Research and Advisory Sdn Bhd, setiap tahun pasar produk halal rata-rata tumbuh 7 %. Indonesia sendiri, sebagai negara berpenduduk 235 juta dan mayoritas Muslim, tambah Mentan, merupakan pangsa pasar yang amat menggiurkan. Potensi pasar yang besar akan menjadi rebutan banyak perusahaan dari sejumlah negara. Produsen yang cerdas dan jeli akan segera mensertifikasi produknya agar memenuhi standar kehalalan dan berusaha menembus pasar Muslim tanpa mengurangi pangsa pasar non-muslim. ‘’Peluang pasar produk halal yang demikian besar juga akan menumbuhkan usaha pelabelan halal yang pada gilirannya akan menumbuhkan industri produk bersertifikat halal.’’

Pada bagian lain, Mentan yang telah melahirkan sejumlah buku pangan halal menegaskan bahwa kehalalan suatu produk akan menentramkan konsumen. Produk halal tidak saja memenuhi kebutuhan aspek keimanan dan ketakwaan, melainkan juga terjaga dari segi kualitas dan hygienisnya. Itulah sebabnya, produk halal amat didambakan dan dicari oleh konsumen Muslim. Sementara konsumen non-Muslim juga dijamin memperoleh produk yang diproses secara sehat, bersih dan aman dikonsumsi.

Dengan tingkat pendidikan konsumen yang meningkat dan akses informasi yang kian luas, lanjut Mentan, konsumen akan semakin kritis dan peduli dengan masalah halal. Negara berkewajiban menjamin halalnya makanan, minuman, obat, kosmetika dan produk-produk lainnya melalui hukum dan peraturan.

Pada kesempatan itu, Mentan mengimbau agar masyarakat waspada terhadap kemungkinan masuknya produk tidak halal. Sebagai negara tujuan impor yang relatif besar, Indonesia rentan dimasuki aneka produk tidak halal. ‘’Jangan sampai kegemparan yang pernah terjadi di beberapa negara terjadi di sini.’’ Akhir 2006, warga Malaysia telah dibuat heboh oleh hadirnya sosis dan mie berlabel halal palsu. Tahun 1997, Deptan AS telah menjatuhkan sanksi bagi perusahaan daging yang memalsukan label halal. Untuk mencegah munculnya produk halal palsu lainnya, Negara Bagian California dan New jersey memberlakukan undang-undang produk halal dengan sanksi denda bagi siapa saja yang menjual dan mempromosikan produk/makanan berlabel halal palsu.

Di Indonesia, isue produk halal palsu belum seheboh di dua negara tersebut. Namun begitu, bukan berarti umat Muslim di sini bisa tenang-tenang saja. Lembaga Pengawas Produk Obat dan makanan (LPPOM) MUI sejauh ini telah menerbitkan 4.706 lembar sertifikat halal untuk sekitar 20 ribu jenis produk dari 1.500 perusahaan. (***)

http://antonapriyantono.com

1. Daging Babi

Pencemaran oleh daging babi biasanya berupa pencampuran dalam bakso, siomay, bakmi goreng, sate jeroan. daging babi teksturnya empuk, serat halus, tersedia di pasaran, dengan harga sangat murah, rasanya lezat sebagai sumber protein hewani. Saat ini juga banyak daging babi yang dicampur dengan daging sapi dan dijual sebagai daging sapi. Daging babi biasanya di restaurant di sebut bacon dan ham. daging babi biasanya juga dibuat pasta hati unggas dan asam amino.

2. Tulang Babi

Penggunaan tulang babi yang biasanya beredar di pasaran adalah gelatin, arang tulang, dan bahan lem. Dari gelatin akan dihasilkan soft capsule obat, permen, jelly, puding, jam/selai, stabilizer, pelembut, marsmallow, emulsifier yang masuk kedalam makanan yoghurt, es krim dan mentega. Sedangkan arang tulang biasanya digunakan untuk filter air minum. Tulang juga biasanya dicampurkan untik menjadi kuah bakso dan kuah bakmi. dan kalsium yang dihasilkan dr tulang sudah masuk juga ke dalam susu dan pasta gigi. pada kerajinan tangan biasanya tulang babi sering dipakai untuk accesoris.

3. Bulu Babi

Penggunaan bulu babi adalah untuk dibuat kuas roti, kuas kosmetik, kuas cat tembok, dan kuas lukis, sistein/sistin, sikat gigi, jaket bulu.

4. Kotoran (feses) Babi

Kotoran babi dapat digunakan untuk pupuk. Hal ini sudah dilakukan di jepang untuk tanaman apel dan sayur-sayuran. Di Indonesia metode ini juga dilakukan didaerah Batu raden, wonosobo dan temanggung.

5. Lemak babi

lemak babi biasanya dapat diolah menjadi beberapa produk makanan, yaitu lemak babi (lard) emulsifier makanan, minyak, gliserin, campuran sosis/susu, penyedap, minyak babi, shortening yang digunakan untuk roti, biskuit, flavor.

  • Emulsifier Makanan

Pengemulsi digunakan untuk mengekalkan lemak yang tersebar didalam air atau titisan air yg tersebar didalam lemak. Makanan yang membutuhkan pengemulsi ini antara lain mayonaise, es krim, coklat, dan margarin. Tanpa bahan pengemulsi ini, maka akan muncul dua lapisan yang tidak saling menyatu dalam makanan tersebut. Bahan yang dijadikan pengemulsi adalah lesitin dan turunan lemak sepertidigliserida dan monogliserida. Sumber pengemulsi mungkin datang dari tumbuhan atau hewan. Biasanya pada hewan sumbernya adalah babi. Tapi bahan yang biasa digunakan sebagai emulsi adalah lesitin. Bahan ini biasanya berasal dari kuning telur atau kacang soya. Tetapi pengemulsi yang dibuat dari mono atau digliserida perlu dilihat lagi sumbernya.

  • Lard (Lemak babi)

Lard merupakan lemak yang diolah (rendering) dari lemak babi. Sumbernya dapat berasal dari seluruh bagian babi. Kualitas terbaik lard diperoleh dari lemak yang berada di sekitar ginjal. Sedangkan kualitas terendah berasal dari lemak yang berada di sekitar usus kecil. Sebagai bahan minyak makan, penggunaannya cukup luas dalam berbagai masakan. Karena titik lelehnya lebih tinggi dari mentega, maka penggunaan lard dalam penggunaan kulit pie dapat menghasilkan produk yang lebih renyah. Selain itu, lard juga digunakan dalam pembuatan jenis-jenis kue pastry agak tekstur dan flavor (rasa) yang dihasilkan meningkat. Penggunaan lainnya adalah sebagai salah satu bahan pembuatan sabun.

  • Minyak babi

Minyak babi biasanya digunakan untuk penyedap aneka masakan seperti bakmi dan aneka masakan seafood.

  • Gliserin

Penggunaan gliserin pada babi biasanya untuk pembuatan softdrink, sabun, dan facial-hand and body lotion.

6. Organ dalam babi

Penggunaan organ dalam babi antara lain sbb :

  • Transplantasi, misalnya transplantasi ginjal, jantung dan hati.
  • Penggunaan plasenta babi biasanya untuk kosmetika (hand & body lotion, facial lotion)
  • Adanya hasil berupa enzim seperti amilase, lipase, pepsin, dan pankreatinin yang digunakan untuk bahan tambahan pengolahan makanan
  • penggunaan usus babi biasanya digunakan untuk casing atau pembungkus sosis.
  • Pankreasnya dipakai untuk insulin
  • Empedunya dijadikan sumber Taurine, taurin atau asam 2-aminoethanesulfonik adalah asam organik yang merupakan kandungan utama empedu, dan dapat ditemukan dalam jumlah rendah di jaringan banyak binatang, termasuk manusia. Taurin adalah turunan dari asam amino yang mengandung belerang (sulfhidril), cystein.
  • Jeroan babi biasanya dipakai enzimnya untuk membuat media fermentasi. sedangkan enzim rennet biasanya dipakai untuk pembuatan kasein, keju, whey dan lakstose.
  • Paru-paru biasanya juga sering dipakai untuk irisan bakso

7. Darah

Bahan ini biasanya banyak digunakan dalam dunia medis, sebagai media fermentasi, dan pewarna pada sosis dll.

8. Kulit

Kulit biasanya dibuat untuk krecek, rambak, kollagen, dan disamak. Kulit yang disamak dijadikan jaket, tas, sepatu dan dompet. Kollagen biasanya sering digunakan sebagai bahan dasar kosmetik dan casing sosis. Dari bahan kulit biasanya juga sering dijadikan gelatin yang pemakaiannya sama dengan gelatin yang dihasilkan oleh tulang.

Produk halal adalah produk yang memenuhi syarat kehalalan sesuai dengan syari’at Islam yaitu :

a. Tidak mengandung Babi dan bahan yang berasal dari babi.

b. Tidak mengandung khamr dan produk turunannya.

c. Semua bahan asal hewan harus berasal dari hewan halal yang disembelih menurut tata cara syari’at Islam.

d. Tidak mengandung bahan-bahan lain yang diharamkan atau tergolong najis seperti : bangkai, darah, bahan-bahan yang berasal dari organ manusia, kotoran dan lain sebagainya.

e. Semua tempat penyimpanan, tempat penjualan, pengolahan, tempat pengelolaan dan alat transportasi untuk produk halal tidak boleh digunakan untuk babi atau barang tidak halal lainnya. Jika alat-alat tersebut pernah digunakan untuk babi atau barang tidak halal lainnya dan kemudian akan digunakan untuk produk halal maka alat-alat tersebut terlebih dahulu harus dibersihkan sesuai dengan tata cara yang diatur menurut syari’at Islam. Penggunaan fasilitas produksi untuk produk halal dan tidak halal secara bergantian tidak diperbolehkan.

3. Pemegang Sertifikat halal MUI bertanggung jawab untuk memelihara kehalalan produk yang diproduksinya.

4. Sertifikat halal MUI tidak dapat dipindahtangankan.

5. Sertifikat yang sudah berakhir masa berlakunya, termasuk salinannya tidak boleh dipergunakan lagi untuk maksud apapun.

A. memahami Bahasa/Tulisan

Langkah pertama yang harus diperhatikan oleh konsumen adalah memahami bahasa atau tulisan. Hal ini sangat perlu karena pada saat ini Indonesia kebanjiran produk impor baik yang legal maupun tidak. Meskipun aturan yang berlaku mewajibkan produsen untuk mencantumkan informasi yang dapat dipahami oleh konsumen secara umum, akan tetapi pada kenyataannya masih ada produk yang beredar di pasaran dengan tulisan atau bahasa yang sama sekali tidak dapat dipahami. Langkah konsumen yang terbaik dalam menghadapi produk seperti ini adalah menghindarinya.

B. Nomor Pendaftaran

Produk yang diproduksi dan beredar d Indonesia seharusnya terdaftar pada lembaga pemerintah yang berwenang, yaitu Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan mendapatkan nomor pendaftaran. Nomor Pendaftaran untuk produk pangan adalah MD atau SP untuk industri kecil. Sedangkan produk Import mendapatkan nomor registrasi dengan kode ML. Kode CD diberikan untuk produk kosmetika lokal dan CL untuk produk luar. Adapun kode TR diperuntukkan bagi produk obat tradisional (jamu) dalam negeri dan TL untuk produk tradisional import.

C. Nama Produk, Produsen, dan Alamat Produksi

Nama dan alamat produsen tidak selalu sama dengan pabrik yang memproduksinya. Saat ini ada perusahaan tertentu yang sudah mendapatkan sertifikat halal untuk produk tertentu di Indonesia, kemudian memproduksi produk yang persis sama di pabrik lain di luar negeri. Padahal sertifikat Halal MUI yang dimiliki hanya diberikan kepada produk yang diproduksi di Indonesia. Pada kasus lain, ada produsen yang sudah dikenal masyarakat luas sebagai produsen produk sertifikat halal kemudian mengeluarkan produk baru dengan merk baru yang tidak disertifikasi halal. Konsumen yang tidak teliti akan otomatis beranggapan bahwa produk apapun yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut pasti halal. Hal-hal seperti itu tentunya menyesatkan konsumen. Oleh karena itu meneliti nama produk, produsen dan alamat produksinya perlu sekali dilakukan.

D. Label Halal

cara yang paling mudah dilakukan untuk memilih produk halal adalah dengan melihat ada tidaknya label atau logo halal pada kemasannya. Produsen yang akan mencantumkan label halal harus memiliki sertifikat halal terlebih dahulu. Tanpa sertifikat halal MUI, ijin pencantuman label halal tidak akan diberikan pemerintah. Sampai saat ini memang belum ada aturan yang menetapkan bentuk logo halal yang khas, sehingga pada umumnya produsen mencetak tulisan halal dalam huruf latin dan atau arab dengan bentuk dan warna yang beragam. Akan tetapi beberapa produsen sudah mulai membuat logo halal dengan bentuk logo MUI dengan mencantumkan nomor sertifikat halal yang dimilikinya. Hal ini dirasakan lebih aman bagi produsen karena masih cukup banyak produk yang beredar dipasaran yang mencantumkan label halal tanpa memiliki sertifikat halal MUI.

E. Daftar Bahan yang digunakan

Salah satu hal penting lain yang harus diperhatikan adalah daftar atau komposisi bahan atau istilah lain ingredients yang terkandung dalam produk yang akan dikonsumsi. Istilah bahan yang digunakan jika diperhatikan masih sangat beragam. Ada yang sudah menggunakan bahasa Indonesia yang secara umum dikenal oleh masyarakat, ada yang masih menggunakan istilah asing, bahkan dapat ditemukan juga yang menggunakan sistem Kode. istilah asing yang perlu dikritisi kehalalannya antara lain emulsifier atau bahan pengemulsi, stabilizer atau bahan penstabil, shortening (lemak yang berasal dari hewan, tumbuhan maupun campuran keduanya, tallow (jenis lemak yang berasal dari sapi atau kambing yang merupakan hasil pengolahan, gelatin (bahan yang dihasilkan dari pengolahan jaringan ikat hewan (tulang dan kulit)). Sedangkan Lard adalah jenis yang harus dihindari karena merupakan istilah untuk lemak babi yang sudah pasti kaharamannya. Kode yang sering muncul adalah kode untuk bahan pewarna dan kode E yang merupakan kode untuk bahan tambahan pangan atau food additives. Tidak semua bahan dengan kode E perlu dicurigai kehalalannya. Beberapa contoh kode E yang perlu diperhatikan karena mungkin berasal dari hewan adalah E422 (gliserol/gliserin), E430 – E436 (asam lemak dan turunannya) dan E470 – E495 (garam atau ester asam lemak). Sedangkan E334 adalah kode untuk L-(+)-tartaric acid yang merupakan hasil samping industri wine.

Pemerintah Kota Batam telah mencanangkan Batam Sebagai Tujuan Wisata Kuliner Tahun 2008, hal ini tentunya akan menjadikan Batam sebagai pusat jajanan yang akan dikunjungi oleh wisatawan dari negara-negara tetangga maupun dari daerah lain di Indonesia. Di samping itu, sebagaimana kita ketahui, bahwa Batam adalah pintu gerbang Indonesia bagian barat, dimana produk impor akan masuk ke Indonesia melalui Batam, sebaliknya produk dalam negeri baik dari Batam dan sekitarnya maupun dari daerah lainnya akan diekspor juga melalui Batam.

Mayoritas penduduk Indonesia dan negara tentangga adalah muslim, yang jika dipandang dari sisi usaha merupakan pasar yang sangat besar dan potensial. Oleh karena itulah, maka perlu kiranya kesadaran para pelaku usaha untuk mengenal pengertian makanan halal untuk menunjang usahanya, juga kepada konsumen semestinya mengetahui tentang makanan halal. Ada beberapa Mall di kota batam, dimana pujasera atau food courtnya sudah banyak menawarkan jajanan halal, seperti Nagoya Hill, Mega Mall, BCS, DC Mall, Top 100 Penuin dll. Banyak rumah makan yang menawarkan wisata kuliner, namun sebagai konsumen kita harus memperhatikan dengan betul apakah sudah mendapatkan sertifikat halal MUI atau belum. seperti Sup Ikan Yong kee dan Golden Prawn,  sepertinya belum mendapatkan sertifikat halal. padahal rumah makan ini termasuk terkenal sering didatangi oleh turis-turis. Cafe-cafe yg ada di batam pun sepertinya tidak jelas, karena beberapa cafe memang sekaligus menjual juga minuman keras. Padahal menurut standart LPPOM MUI warung makan atau cafe yg menjual minuman keras tentunya tidak akan mendapatkan sertifikat halal. apakah Godiva dan warung-warung coffe sejenisnya juga sudah mendapatkan sertifikat halal MUI, mungkin dari pembaca bisa memberikan komentarnya. sebab di batam saat ini sedang trend nongkrong di cafe godiva yang sukses membuka cabang dibeberapa tempat terutama disekitar studio film. Ada banyak RM baru yang menawarkan menu khusus seperti bebek goreng yang notabene berbumbu masakan cina dan ada juga RM seafood yang modern yang sudah masuk ke mall apakah semua ini sudah tidak menggunakan bumbu-bumbu masakan cina seperti angciu.. ? Walllahualam … Mudah-mudahan sebagai konsumen muslim yang peduli tentang kehalalan nutrisi yang masuk ke tubuh kita, kita lebih jeli untuk memilih rumah makan, bukan karena daging hewannya saja yang harus disembelih menurut tata cara agama islam, tapi banyak bahan-bahan tambahan makanan yang juga harus diwaspadai karena sudah tercemar dengan bahan-bahan dari hewan haram.. (akan dibahas dalam tulisan selanjutnya)

Kita menunggu kepedulian dari pemerintah kota batam yang sudah akan mencanangkan batam sebagai Kota wisata kuliner. Kuliner yang halal tentunya ditunggu oleh mayoritas muslim yang mendiami kota pendatang ini. Wisatawan mancanegara pun kalau berkunjung ke kota batam akan merasa aman bila mencari makanan halal di kota ini, karena semua Rumah makan yang menawarkan wisata kuliner sudah ditertibkan oleh pemerintah. Batam jangan sampai lagi terkenal dengan kekhasan nya dan kemudahannya mencari yang haram saja, tetapi sesuai slogan pemerintah menjadikan Batam menjadi bandar dunia madani pun segera terwujud. Amin

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.