Perlu diwaspadai adanya label palsu serta label tempelan karena biasanya label halal yang sudah diakui oleh lembaga sertifikat halal adalah yang menyatu dengan kemasan pembungkus, baik pembungkus kecil yang berada langsung di wadah produk maupun pembungkus selanjutnya. Biasanya label halal palsu ini hanya tulisan halal kecil saja berbentuk bulat yang ditempelkan diatas kemasan utama.

Ada beberapa bahan tambahan makanan seperti kecap, saus tiram, minyak wijen yang beredar di supermarket dan minimarket yang ada di batam menjual produk seperti ini. Beberapa rumah makan sea food, food court dan pujasera yg ada di batam sering sekali menggunakan produk yang berasal dari cina yang diimpotir dari perusahaan import singapura, malaysia ataupun thailand.

Sebaiknya kita membeli produk yang sudah tertera logo halal LPPOM MUI yang berbentuk bulatan dengan 3 lapisan bulatan, pada lapisan pertama/Lingkaran ada tulisan Majelis Ulama Indonesia, pada lapisan atau lingkaran kedua ada tulisan kaligrafi arab dan lingkaran ketiga atau bulatan yang ada ditengah ada tulisan halal dalam huruf arab. pada dua lingkaran terakhir berwarna hijau sedangkan lingkaran yang tertera tulisan Majelis Ulama Indonesia dasarnya berwarna putih. Begitu juga dengan sertifikat halal negara tetangga baik malaysia, singapura dan thailand ada masing-masing logo / label halal dari masing masing negara tersebut. (informasi gambar bisa diperoleh di blog yang sudah di cantumkan)

Bagaimana dengan banyaknya rumah makan yang seringkali menuliskan 100% halal, padahal jelas2 belum mendapatkan sertifikat halal ? ada banyak RM di seputaran nagoya dan batam centre yang mungkin karena pemiliknya adalah seorang muslim dan dia beranggapan bahwa dari lauk-pauk yang disediakan tidak menggunakan daging haram maka dengan yakin dia mengklaim bahwa makanan yang dikelolanya sudah 100 % halal. Padahal saat ini sudah banyak sekali beredar bahan-bahan tambahan yang bisa membuat 100 % halal nya menjadi turun hingga 98 %, bisa jadi bahan tambahannya, ada unsur haramnya sebesar 2 %. Jadi jika tertulis disana hanya tinggal 98 % halal bagaimana kaidahnya ? Apalagi jika rumah makan yang dimiliki oleh non muslim dan hampir semua pekerjanya tidak ada yg muslim tetapi dengan beraninya menyatakan dijamin 100% halal seperti tampak dalam gambar diatas !.

Saat ini tidak ada sangsi bagi pengusaha makanan yang dengan berani nya menulis 100% halal padahal belum jelas kehalalannya dan tidak ada lembaga yang menjamin hal tersebut.