1. Sertifikat Halal hanya berlaku selama dua tahun, sedangkan untuk daging yang diekspor surat keterangan halal diberikan untuk setiap pengapalan.
  2. Tiga bulan sebelum berakhir masa berlakunya sertifikat, LP POM MUI akan mengirimkan surat pemberitahuan kepada podusen yang bersangkutan untuk segera mendaftar kembali.
  3. Dua bulan sebelum berakhir masa berlakunya sertifikat, produsen harus mendaftar kembali untuk mendapatkan sertifikasi halal yang baru.
  4. Produsen yang tidak memperbaharui sertifikat halalnya, tidak diizinkan lagi menggunakan sertifikat halal yang telah kadaluarsa dan dihapus dari daftar yang terdapat dalam majalah resmi LP POM MUI Jurnal Halal.
  5. Jika Sertifikat Halal hilang, pemegang harus segera melaporkannya ke LP POM MUI.
  6. Sertifikat halal yang dikeluarkan oleh MUI adalah milik MUI. Oleh sebab itu, jika karena sesuatu hal diminta kembali oleh MUI, maka pemegang sertifikat wajib menyerahkannya.
  7. keputusan MUI yang didasarkan atas fatwa MUI tidak dapat diganggu gugat.

SUMBER : Buku panduan Sertifikat halal LP POM MUI

namun yang sering terjadi adalah produsen masih tetap menggunakan sertifikat halal yang sudah kadaluarsa dengan alasan pengurusan akan menambah biaya dan mereka beranggapan kehalalan makanan mereka tetap terjaga. Padahal keyakinan yang sudah jelas keluar dari aturan ini, malah perlu dicurigai karena belum tentu bahan-bahan yang dipakai masih sama dengan yang sudah diaudit sebelumnya. Selayaknya konsumen perlu mengambil sikap terhadap rumah makan yang seperti ini. Yang baru-baru ini terjadi adalah ada sebuah toko bakery yang sertifikatnya sudah kadaluarsa tapi masih tetap dipajang di etalase tokonya. Bagaimana sanksi terjadap toko seperti ini ?, jadi pastikan kalau mau membeli roti cari yang sudah  bersertifikat halal.

Bagaimana dengan usaha franchaise yang banyak membuka cabang di berbagai tempat ? (kita akan ulas di tulisan berikutnya)