Buah buahan tentunya merupakan makanan yang halal, namun pada kondisi tertentu setelah dijus dan diblender akan menjadi minuman yg haram dan memabukkan, karena kandungan etanol di dalamnya menjadi bertambah. lebih jelas tertuang dalam point-point berikut ini :

1. Etanol (alkohol) tidak sama dengan khamr. Etanol adalah salah satu bahan kimia yang status kehalalannya sama dengan status kehalalan bahan kimia lainnya dimana sifatnya didalam bahan pangan tergantung kepada konsentrasinya. Etanol tidak dikonsumsi dalam bentuk murninya, sedangkan khmar adalah sesuatu yang
dikonsumsi.
2. Khamr adalah segala sesuatu yang dikonsumsi yang bersifat memabukkan.
Dasarnya adalah hadis “segala sesuatu yang memabukkan itu khamr dan khamr itu
haram”. Keharaman khamr juga ditegaskan didalam Al Quran surat Al Maidah ayat
90-91.
3. Etanol ada di banyak bahan pangan seperti buah-buahan, itu sebabnya bukan
keberadaan etanol yang menyebabkan suatu bahan haram, akan tetapi lebih kepada
berapa kadarnya. Untuk menetapkan berapa batas kadar etanol yang tidak
diperbolehkan ada didalam bahan pangan atau minuman maka hadis mengenai jus
dapat dirujuk, beberapa hadis tersebut yaitu:
a. “Minumlah itu jus selagi ia belum menjadi keras” . “Berapa lama ia menjadi
keras”, tanya para sahabat, “Ia menjadi keras setelah 3 hari”.
b. Rasulullah biasa menyimpan perasan anggur, pada malam pertama diminumnya,
pada malam kedua diminumnya, sedangkan pada malam ketiga perasan anggur tersebut
telah berubah menjadi bersifat memabukkan maka Rasulullah membuangnya.
c. Pada suatu ketika seorang sahabat membawakan minuman jus ke hadapan
Rasulullah yang akan berbuka puasa, akan tetapi Rasulullah menolak minuman
tersebut karena ternyata telah terbentuk gelembung pada minuman tersebut.
(Keterangan: ini tanda telah terjadinya fermentasi alkohol pada minuman
tersebut).
Dari hadis-hadis tersebut diatas jelaslah jus buah yang mengandung
etanol/alkohol (pada jus jeruk dapat mencapai 0.15% alkohol) adalah halal,
bahkan jus yang disimpan sampai 2 malam itu juga halal, padahal jus yang
disimpan pada suhu kamar dan kondisi aerobik jelas akan mengalami fermentasi
alkohol yang spontan sehingga kadar alkoholnya meningkat. Pada penyimpanan hari
ketiga jus tersebut telah berubah sifatnya menjadi memabukkan, pada kondisi
inilah kadar alkohol ditetapkan menjadi batas dimana suatu minuman menjadi haram
hukumnya.
4. MUI telah memfatwakan bahwa minuman keras adalah minuman yang mengandung
alkohol satu persen atau lebih. Jika suatu minuman mengandung kadar alkohol
kurang dari satu persen akan tetapi minuman tersebut sudah diniatkan untuk
dijadikan minuman yang memabukkan maka statusnya juga haram. Akan tetapi jika
minuman tersebut tidak ditujukan untuk dijadikan minuman memabukkan walaupun
mengandung alkohol kurang dari satu persen tetap halal sepanjang bukan terbuat
dari bahan yang haram atau mengandung bahan yang haram.
5. Kesimpulannya: etanol itu sendiri tidak haram, sama halnya dengan bahan-bahan
kimia lain yang bahkan lebih toksik dari etanol seperti aseton, kloroform, dll.
Keberadaan etanol didalam bahan pangan tidak masalah asalkan kadarnya kurang
dari satu persen. Jika kadar alkohol suatu minuman atau bahan pangan satu persen
atau lebih maka minuman tersebut statusnya haram. Batas 1% merupakan hasil
ijtihad Komisi Fatwa MUI.

Sumber : tulisan Bpk Menteri Anton Apriyantono

http://groups.yahoo.com/group/Halal-Baik-Enak