Hitungan Lebaran sudah bisa dihitung dengan 10 jari, kesibukan kaum ibu mulai terasa, dari membuat kue kue kering hingga memikirkan masakan yang akan disuguhkan pada hari lebaran. Biasanya sesuai tradisi, dalam menyambut hari Raya, kita semua mewajibkan diri kita memasak berbagai masakan hewani yang berprotein tinggi dengan alasan setelah satu bulan berpuasa saatnya lebaranlah konsumsi makanan kita ditambah dengan gizi protein yang lebih baik. Yang umum adalah masakan rendang daging dan opor ayam. Saat ini harga daging sangat melonjak naik drastis, sehingga banyak pertimbangan yang membuat kita membatalkan membuat rendang, dan yang agak ringan adalah berencana untuk membuat berbagai hidangan dari daging ayam seperti opor ayam, soto ayam, gulai ayam dll.

Namun karena sekali lagi meskipun biayanya agak ringan dibanding membeli daging, untuk 1 ekor ayam kampung  yang biasanya 35 rb rupiah-an menjelang lebaran, kitapun sering masih agak menghitung-hitung, sehingga ayam apa saja yang dijual dipasar akan kita beli tanpa sempat memperhatikan kualitas daging ayam yang kita beli. Apalagi bagi sebagian besar masyarakat kecil, yang saat ini dengan naiknya harga berbagai macam kebutuhan pangan pokok budget sebesar itu tetap tidak terjangkau. Sehingga merekapun tetap membeli ayam “jenis apa saja” dengan dana yang ada, karena tradisi dan pola berlebaran yang seakan-akan tetap memaksa untuk menyediakan lauk berprotein tinggi tersebut sebagai kawan makan ketupat.

Oleh karena itu perlu dari kita semua untuk memilih dan membedakan mana daging ayam yg baik dan tidak baik. yaitu  Hal yang paling utama adalah :

1. Dipotong di Rumah Potong Ayam (RPA) resmi/sudah bersertifikat halal (ada logo halal MUI – RPA/RPH batam sudah ada dalam tulisan)

2. Dipotong bukan di RPA tapi pemotongannya benar (perhatikan cara memotongnya dan pastikan di lehernya terdapat bekas sembelihan yang memutus dua uratnya (tenggorokan dan kerongkongan)

Daging Ayam yang baik memiliki ciri-ciri :

  • diperoleh dari daging ayam yang sehat dan umurnya relatif masih muda;
  • Karkas (daging bertulang atau bagian tubuh ternak yang disembelih, selain kepala, kulit dan jeroan) masih utuh, putih (atau sedikit kuning muda) dan bersih dari kotoran dan tidak mudah terkelupas;
  • Warna daging merah pucat mengkilat dan belum mengalami perubahan warna;
  • Kedua paha normal dan simetris serta bila ditekan terasa kenyal, dada penuh daging dan tulang dada tidak menonjol;
  • Kedua sayap normal simetris, dan dibawah sayap hampir tidak kelihatan pembuluh darah;
  • Bau khas daging ayam;
  • Mata ayam yang sehat berwarna cerah dan jernih;
  • Ketika digoreng bau khas ayam dan tulang tidak menghitam;
  • Permukaan tak berlendir
  • Persendiannya masih lemas dan bersih (tidak berdarah gumpal) ketika dipotong

Daging ayam tidak baik (bangkai) memiliki ciri-ciri :

  • Bagian kepala dan leher kelihatan berwarna biru sampai kehitam-hitaman;
  • Warna daging biasanya merah kecoklatan sampai biru kehitaman karena darah tidak keluar;
  • Pada pembuluh darah dibawah sayap terlihat adanya bekuan/bendungan darah;
  • Bekas irisan/sembelihan biasanya kecil dengan luka irisan tampak rata;
  • bau daging anyir, bila ditekan terasa lembek dan berlendir;
  • kulit mudah terkelupas;
  • sendi/tulang saat dipotong mengeluarkan gumpalan darah;
  • warna kulit karkas ayam yang terlalu kuning perlu diwaspadai, karena mungkin sekali ayam tersebut yang sudah lama atau diberi pewarna sehingga terlihat seperti baru;
  • banyak luka di tubuh ayam;
  • leher ayam tidak disembelih, hanya berlubang;
  • bau bahan pengawet berlebihan dan campur bau busuk

Di pasaran ayam ras biasanya mendominasi perdagangan, restorant padang dan fast food termasuk penggunanya. Ayam kampung karena harganya mahal hanya dipasarkan dan dikonsumsi secara terbatas.

Ayam ras biasanya dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu ayam broiler, ras dan apkir.

Ayam Broiler (ayam ras potong), dipelihara untuk diambil dagingnya, biasanya berumur lebih kurang delapan minggu, daging bertekstur lembut, empuk dan gurih.

Ayam ras, ayam petelur yang digemukkan untuk diambil dagingnya. Bibit jenis ini berasal dari ayam petelur pejantan. Karena dipelihara dengan baik, kualitas dagingnya pun baik. Penampilannyapun mirip dengan broiler, namun ukurannya lebih kecil sehingga sering dijual sebagai “ayam kampung” pasarannya agak terbatas.

Ayam apkir, berasal dari ayam petelur yang sudah tidak produktif. Ia dipotong untuk diambil dagingnya. Ciri umumnya tulang pinggul lebih tebal, tumpul dan kaku, dagingnya liat/ keras karena usianya sudah tua. Ukurannya biasanya besar-besar .

Sumber :

1. Panduan belanja dan Konsumsi Halal, Anton Apriyantono dan Nurbowo

2. Memilih Makanan Halal, Nura Mayasari, S.KH

3. 18 Langkah memilih produk halal dan dunia, Nurbowo