November 2008


Ma.. beli susu sama biskuit itu yang ada vitaminnya itu lho ma yang kayak di TV, bisa jadi kuat lho, bisa jadi superman tuh ma…… , waduh pusing deh kayaknya ibu-ibu kalau anak-anaknya sudah terbujuk rayu iklan media untuk membeli produk yang belum tentu benar khasiat dan manfaatnya. Yang jelas susu memang bermanfaat bagi tubuh kita, tapi apakah dengan ditambahkan vitamin, mineral serta suplemen lain belum tentu hasilnya sesuai dengan apa yang ditayangkan oleh media. Bagaimana kita bisa mengetahui produk mana yang jelas manfaatnya, aman, bersih serta yang paling penting halal.

Aman dikonsumsi tidak tercemar oleh produk pencemar seperti zat-zat kimia berbahaya, kotoran, radiasi serta bahan-bahan yang haram. Kebersihan tentu yang paling utama, bagi sebagian ibu-ibu membeli makanan di supermarket dan minimarket selain faktor kebersihan dan kenyamanan dalam berbelanja, kualitas barang juga tentunya merupakan hal yang utama yang harus diperhatikan. Dalam membeli produk makanan dan minuman ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan :

  1. Sertifikat halal. (biasakan yang pertama melihat kehalalannya dulu, Logo Halal MUI berwarna Hijau, atau logo halal malaysia, singapura dll), serta no registernya.
  2. Merk Dagang dan perusahaan pembuat (pabrik), yang tercantum di kemasan produk, biasanya ada beberapa perusahaan yang sudah mendapatkan sertifikat halal, tapi pada kemasan produk paling akhir logo halalnya belum dicantumkan, mis : permen, coklat dll. Perusahaan yang sudah sertifikat halal bisa ditelusuri di situs yang sudah diatutkan di blog ini.
  3. Izin Usaha, produk luar negeri atau produk dalam negeri, atau produk luar yang diimpor. ada tanda ML atau MD pada kemasan izin dari BPPOM, selengkapnya bisa baca di
  4. Tanggal Kadaluarsa, saat ini yang diwajibkan mencantumkan tanggal kadaluarsa adalah susu dan produk turunannya seperti : yoghurt, yakult, keju, mayonaise, krim, coklat (yang ada bahan susunya) dll, karena biasanya produk ini tidak tahan lama.
  5. Komposisi bahan, yang paling utama diperhatikan adakah yang merupakan produk turunan hewan yang perlu diwaspadai, istilah-istilah yang perlu diperhatikan sudah dijelaskan pada tulisan sebelumnya.
  6. Kemasannya utuh atau cacad (jika pembungkus plastik, lihat sobek atau tidak, jika kemasan kaleng menggembung atau tidak), kemasan yang baik utk makanan
  7. Saran Penyajian, biasanya perusahaan yang sudah besar memberikan saran penyajian untuk konsumen. Biasanya aturan pakai produk tersebut, cara penyajian maupun ditujukan untuk konsumen dengan jenis umur tertentu.
  8. Kebersihan dan kesehatan pedagang, biasanya jajanan yang ada di depan sekolah, nyaris tidak pernah benar-benar kita perhatikan. selain 7 point diatas, banyak hal yang membingungkan karena jajanan didepan sekolah tentunya tidak mungkin diharafkan untuk bisa memperoleh sertifikat halal, oleh karena itu bagaimana kita mewaspadai bahwa jajanan tersebut sudah memenuhi syarat 7 point diatas ? (berikut tipsnya)
  • tips memilih jajanan kaki lima (didepan sekolah anak)
  1. Kalau yang dijajakan adalah makanan dan minuman dalam kemasan tentunya perhatikan tips yang 7 point diatas, namun kalau tidak tentunya jajanan sekolah sebaiknya kita beli di kantin sekolah, lebih aman karena sudah diseleksi, lagi pula biasanya jajanan di depan sekolah, banyak ditambah oleh pewarna dan bahan tambahan makanan yang tidak jelas, selain tidak halal juga biasanya banyak bahan tambahan makanan yang berbahaya.
  2. Jika jajanan di tempat yang terbuka sebaiknya tidak usah dibeli, kebersihan masih belum jelas.
  3. Biasanya banyak jajanan seperti gulali, bakso tusuk, es batangan banyak dikonsumsi anak-anak, padahal pewarna yg digunakan bisa saja pewarna tekstil bukan pewarna makanan.
  4. kemasan plastik yg digunakan juga bukan kemasan plastik yg khusus untuk makanan, pada tulisan sebelumnya sudah dijelaskan mengenai hal ini.
  5. Jika yang dijual adalah gorengan biasanya minyak yg digunakan adalah minyak bekas pakai berkali-kali. Malah ada berita gorengan yang gurih biasanya ditambahkan plastik ke dalam minyak penggorengan yang masih panas.
  6. Jika yang dijual adalah bakso, pastikan bakso yang dibuat ditanyakan pada penjual baksonya dibuat dengan bahan yang halal dan campuran yang sah untuk membuat bakso, atau membeli bakso jadi yang sudah dibungkus dan yang sudah ada sertifikat halalnya. Kebanyakan daging yg digunakan untuk membuat bakso juga daging yang tidak jelas, bisa jadi daging yg tidak dibeli pada rumah potong hewan yang sah,  atau malah daging hewan haram dan menjijikkan atau malah hewan bangkai.
  7. Ada banyak jajanan lain yang sangat variatif, yang jelas lebih mudah adalah memperingatkan kepada anak kita untuk tidak jajan sembarangan, lebih baik membawa bekal dari rumah, atau menyarankan untuk membeli di kantin sekolah.

Banyak kasus keracunan makanan terjadi, karena kita tidak pernah memperhatikan pola jajanan dan makanan-makanan yang ditawarkan dihadapan kita. Ada banyak makanan junkfood (makanan sampah) yang terlalu banyak kalori yang menyebabkan penimbunan lemak dan penyakit dan tidak mempunyai nilai gizim, meskipun disajikan di restaurant mewah yang malah sudah bersertifikat halal. Namun karena porsinya terlalu sering membuat anak tidak peka dan tidak mempunyai inisiatif, untuk mengenal makanan lain yang lebih bergizi dan variatif. Ada banyak cara dan banyak kendala namun jika kita waspada semua tentu bisa diatasi bersama. Menumbuhkan pola hidup sehat dan halal tentunya dimulai sejak usia dini, darimana ? di mulai dari rumah sendiri.

Tape merupakan salah satu makanan terpopuler di Indonesia, banyak tersedia di mana mana, bahkan merupakan menjadi makanan favorit pada waktu lebaran di beberapa daerah. Akan tetapi, banyak sekali pertanyaan di seputar kehalalan tape ini mengingat tape mengandung alkohol dan alkohol merupakan komponen yang paling banyak terdapat pada minuman keras, sedangkan minuman keras adalah salah satu bentuk khamar yang keharamannya jelas. Dengan demikian, bagaimana dengan tape, apakah masuk kedalam kategori khamar? Mari kita diskusikan masalah tape ini dari berbagai segi.

Mengenai khamar, dalam menetapkan hukumnya yang pertama dikemukakan adalah hukum syar’inya, sedangkan ilmiah atau empiris (seperti adanya alkohol atau kadar alkohol) hanya bersifat mendukung saja. Dalam menetapkan hukum pun tidak hanya diambil satu dua dalil saja akan tetapi harus dilihat keseluruhan dalil karena semua dalil tersebut bersifat saling menguatkan dan melengkapi.

Dalil yang pertama dalam masalah khamar berbunyi “setiap yang memabukkan adalah khamar (termasuk khamar) dan setiap khamar adalah diharamkan” (Hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Abdullah bin Umar), selanjutnya dalil yang kedua berbunyi “khamar itu adalah sesuatu yang mengacaukan akal” (pidato Umar bin Khattab menurut riwayat Bukhari dan Muslim). Dalam memahami kedua dalil ini maka yang harus disadari adalah ini berlaku bagi segala sesuatu yang biasa dikonsumsi seperti minuman beralkohol (alcoholic beverages), ganja (dilinting dan dirokok), hasis, morfin (disuntikkan), bubuk narkoba (dihirup), dll. Untuk sesuatu yang tidak biasa dikonsumsi seperti alkohol dalam bentuk murninya dan pelarut pelarut organik lainnya (alkohol atau etanol adalah salah satu jenis pelarut organik) seharusnya tidak terkena hukum ini karena mereka tidak dikonsumsi.

Akan tetapi, masalahnya jika dalilnya hanya yang dua itu saja maka akan banyak timbul pertanyaan diantaranya kalau hanya sedikit saja bagaimana? Nah, untuk itu ada kaidah fiqih lainnya yang dasarnya adalah hadis yang berbunyi “jika banyaknya memabukkan maka sedikitnya juga haram”. Jadi, kalau dalam kondisi biasa dikonsumsi bersifat memabukkan maka sedikitnya pun haram. Ada pertanyaan lagi, kan banyak orang yang kalau pun minum satu gelas tidak akan mabuk? Jawabannya adalah kaidah fiqih lainnya yaitu “Islam mencegah segala sesuatu ke arah haram” atau “Islam selalu berusaha menutup lubang ke arah haram”, dengan demikian maka yang dijadikan patokan adalah orang yang paling sensitif terhadap mabuk, bukan orang yang paling tahan. Ingat “la takrobu zinna”, janganlah engkau mendekati zina, mendekati saja tidak boleh apalagi berbuat zina. Dengan demikian, mencegah ke arah haram itu yang harus kita lakukan.

Masalahnya, ada hal-hal lain yang berpotensi untuk berubah menjadi minuman memabukkan, mungkin saja pada kondisi diharamkan tersebut tidak bersifat memabukkan, akan tetapi sesuai dengan prinsip Islam yang mencegah ke arah haram maka ditetapkanlah hukum yang menjaga ke arah haram tersebut. Hal ini misalnya berlaku untuk jus, berdasarkan hadis maka jus buah (atau yang sejenis) yang disimpan pada suhu kamar dalam kondisi terbuka selama lebih dari dua hari termasuk kedalam khamar. Mengapa hal ini ditetapkan?, kelihatannya lagi-lagi tujuannya untuk mencegah terjadinya perdebatan di kemudian yang ternyata benar yaitu kalau batasannya hanya “mengacaukan akal” maka orang akan berdebat jus buah yang difermentasi alkohol selama 3 hari kan masih belum bersifat memabukkan? Nah, dengan batasan dua hari itu maka dari sisi proses seharusnya sudah tidak perlu diperdebatkan lagi karena begitu melibatkan fermentasi alkohol jus buah lebih dari 2 hari, hasilnya adalah khamar. Ada jenis fermentasi lain tetapi biasanya memerlukan kondisi khusus, jika spontan begitu saja dan terjadi pada jus buah maka kemungkinan besar itu adalah fermentasi alkohol.

Apa cukup dalil-dalil itu? Ternyata masih ada dalil lain, hal ini juga untuk memudahkan untuk mengenali khamar, dasarnya adalah hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw sewaktu berbuka puasa disodori jus yang sudah mengeluarkan gelembung (gas), ternyata Rasulullah saw menolaknya dan menyebutkan itulah minuman ahli neraka (khamar). Dari sini bisa disimpulkan salah satu ciri khamar yang dibuat dari jus buah atau yang sejenisnya adalah adanya gas yang keluar dari jus tersebut (bukan gas karbondioksida atau CO2 yang sengaja ditambahkan seperti pada minuman berkarbonasi/carbonated beverages) yang berarti telah terjadi fermentasi alkohol dan telah mencapai batas memabukkan berdasarkan batasan proses dan ciri-ciri produk.

Nah, masih ada lagi pertanyaan lain, jika begitu kalau kadar alkoholnya hanya 1 persen seperti pada minuman shandy, apakah halal? Lagi-lagi hukum syar’i disini yang lebih kena untuk menjawab pertanyaan tersebut, akan tetapi untuk menerapkannya harus tahu dulu bagaimana proses pembuatan minuman shandy tersebut. Ternyata minuman shandy dapat terbuat dari bir ditambah air, flavor dan karbon dioksida. Bir jelas haramnya karena termasuk kedalam kelompok minuman beralkohol (alcoholic beverages), hal ini ditetapkan atas dasar kesepakatan yang merujuk pada dalil-dalil yang telah disebutkan diatas. Karena minuman shandy dibuat dari bir maka hukumnya haram berdasarkan kaidah fiqih “apabila bercampur antara yang halal dengan yang haram maka akan dimenangkan yang haram”, jadi suatu makanan atau minuman jika tercampur atau dibuat dengan barang yang haram maka berapapun campurannya atau berapapun sisanya maka makanan dan minuman tersebut hukumnya tetap haram. Hal ini berlaku karena dalam pembuatan makanan pencampuran tersebut bisa berlangsung merata ke seluruh bagian makanan.

Bagaimana dengan tape? Coba kita kaji dengan dalil-dalil yang telah dijelaskan diatas:

1. Apakah tape yang baru jadi (masih segar) bersifat memabukkan? Belum ada yang melaporkan bahwa tape yang baru jadi ini memabukkan.

2. Apakah tape dibuat dari jus yang diperam lebih dari dua hari? Memang bukan dibuat dari jus, akan tetapi begitu tape (khususnya tape ketan, tidak berlaku bagi peuyeum bandung yang selalu keras) disimpan pada suhu ruang maka akan terbentuk jus yang bisa dianalogikan dengan jus buah-buahan yang tidak boleh diperam lebih dari dua hari, dengan demikian tape ketan juga sama, tidak boleh disimpan pada suhu ruang lebih dari dua hari (dihitung dari mulai jadi tape) karena pada hari ketiga sudah bisa digolongkan
kedalam khamar.

3. Apakah terbentuk gelembung? Jika tape ketan disimpan lebih dari dua hari biasanya terbentuk cairan yang mengeluarkan gelembung dan busa. Ini merupakan tanda bahwa tape tersebut sudah tidak boleh dikonsumsi lagi karena bisa dianalogikan dengan jus yang ditolak oleh Rasulullah saw karena sudah terlihat adanya gelembung.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tape ketan tidak boleh disimpan pada suhu ruang lebih dari 2 hari karena lebih dari itu bisa dimasukkan kedalam kategori khamar. Akan tetapi, bagaimana dengan kadar alkoholnya? Baru-baru ini ada hasil penelitian mengenai tape ketan yang dilaporkan di jurnal ilmiah International Journal of Food Sciences and Nutrition volume 52 halaman 347 – 357 pada tahun 2001. Pembuatan tape ketan dilakukan di lab mengikuti cara tradisional, tapi terkontrol dimana 200 g beras ketan dicuci, direndam selama 2 jam, dikukus 10 menit. Beras ketan lalu dibasahi dengan air dengan cara merendamnya sebentar dalam air, dikukus lagi 10 menit, didinginkan, lalu diinokulasi (ditaburi) dengan 2 g starter (ragi tape merek Tebu dan NKL), dimasukkan kedalam cawan petri steril, lalu difermentasi pada suhu 30 derajat Celsius selama 60 jam. Berikut adalah kadar etanol yang diperoleh berdasarkan pengukuran dengan menggunakan kit yang diperoleh dari Boehringer Mannheim: kadar etanol (%) pada 0 jam fermentasi tidak terdeteksi, setelah 5 jam fermentasi kadar alkoholnya 0.165%, setelah 15 jam 0.391%, setelah 24 jam 1.762%, setelah 36 jam 2.754%, setelah 48 jam 2.707% dan setelah 60 jam 3.380%. Dari data tersebut terlihat bahwa setelah fermentasi 1 hari saja kadar alkohol tape telah mencapai 1.76%, sedangkan setelah 2.5 hari (60 jam) kadarnya menjadi 3.3%, bisa dibayangkan jika dibiarkan terus beberapa hari, bisa mencapai berapa %? (memang tidak akan naik terus secara linear, akan mencapai kadar maksimum pada suatu saat). Padahal, komisi fatwa MUI telah berijtihad dan menetapkan bahwa minuman keras (khamar) adalah minuman yang mengandung alkohol 1% atau lebih, sedangkan tape ketan yang dibuat dengan fermentasi 1 hari saja kadar alkoholnya telah lebih dari 1%. Jika batas kadar alkohol yang diterapkan pada minuman ini diterapkan pada tape maka jelas tape ketan tidak boleh dimakan karena kadar alkoholnya lebih dari 1%. Tentu saja nanti akan ada yang mempertanyakan, bukankah tape itu makanan padat sedangkan minuman keras itu suatu cairan sehingga tidak sama antara makanan padat dan minuman. Pertanyaan ini sah sah saja, akan tetapi jika digabungkan antara kaidah kaidah yang berlaku pada khamar terhadap tape dan fakta kadar alkohol tape ketan maka tetap saja tape ketan ini rawan dari segi kehalalannya.

Walaupun demikian, perlu diketahui bahwa belum ada fatwa mengenai tape ini. Oleh karena itu pilihan ada di tangan masing-masing, mana pendapat yang akan diikuti. Apabila ingin menjaga dari hal-hal yang meragukan maka menghindari makanan yang meragukan (syubhat) adalah yang utama.

Jadi, yang dipermasalahkan disini khususnya adalah tape ketan, kalau peuyeum Bandung insya Allah tidak bermasalah karena selalu keras. Tape singkong (peuyeum) akan lebih banyak kandungan alkoholnya bila dibuat dengan cara ditumpuk, dengan cara ini kondisi lebih bersifat anaerobik; jadi sesuai dengan fenomena “Pasteur Effect” maka produksi alkohol menjadi lebih banyak. Bila dibuat dengan cara digantung seperti yang terjadi pada peuyeum Bandung, maka cenderung lebih manis, karena lebih aerobik. Pada kondisi yang lebih aerobik ini, yeast (ragi) cenderung lebih banyak menghasilkan amilase dan atau amiloglukosidase, dua enzim yang bertanggung jawab dalam penguraian karbohidrat menjadi glukosa dan atau maltosa. Oleh sebab itu relatif lebih aman membeli tape gantung atau peuyeum Bandung. Akan tetapi, untuk jenis tape singkong lainnya ya perlu hati-hati, khususnya kalau sudah berair, itu sudah meragukan karena mungkin sudah mengandung alkohol yang relatif tinggi. Menghindari tape singkong yang sudah berair adalah yang sebaiknya.

sumber : Jurnalhalal

Sertifikasi Halal Cetak E-mail
Tujuan
Sertifikasi Halal pada produk pangan, obat-obat, kosmetika dan produk lainnya dilakukan untuk memberikan kepastian status kehalalan suatu produk, sehingga dapat menentramkan batin para konsumen. Kesinambungan proses produksi halal dijamin oleh produsen dengan cara menerapkan Sistem Jaminan Halal.
Sertifikat Halal
Sertifikat Halal adalah fatwa tertulis Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syari’at Islam. Sertifikat Halal ini merupakan syarat untuk mendapatkan ijin pencantuman label halal pada kemasan produk dari instansi pemerintah yang berwenang.
Jaminan Halal dari Produsen
Masa berlaku Sertifikat Halal adalah 2 (dua) tahun, sehingga untuk menjaga konsistensi produksi selama berlakunya sertifikat, LPPOM MUI memberikan ketentuan bagi perusahaan sebagai berikut:
1. Sebelum produsen mengajukan sertifikat halal terlebih dahulu harus mempesiapkan Sistem Jaminan Halal. Penjelasan rinci tentang Sistem Jaminan Halal dapat merujuk kepada Buku Panduan Penyusunan Sistem Jaminan Halal yang dikeluarkan oleh LP POM MUI.
2. Berkewajiban mengangkat secara resmi seorang atau tim Auditor Halal Internal (AHI) yang bertanggungjawab dalam menjamin pelaksanaan produksi halal.
3. Berkewajiban menandatangani kesediaan untuk diinpesksi secara mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya oleh LPPOM MUI.
4. Membuat laporan berkala setiap 6 bulan tentang pelaksanaan Sistem Jaminan Halal.
Prosedur Sertifikasi Halal
1. Produsen yang menginginkan sertifikat halal mendaftarkan ke sekretariat LPPOM MUI dengan ketentuan sebagai berikut:
a.  Industri Pengolahan
Produsen harus mendaftarkan seluruh produk yang diproduksi di lokasi yang sama dan/atau yang memiliki merek/brand yang sama.
Produsen harus mendaftarkan seluruh lokasi produksi termasuk maklon dan pabrik pengemasan.
Ketentuan untuk tempat maklon harus dilakukan di perusahaan yang sudah mempunyai produk bersertifikat halal atau yang bersedia disertifikasi halal.
b.  Restoran dan Katering
Restoran dan katering harus mendaftarkan seluruh menu yang dijual termasuk produk-produk titipan, kue ulang tahun serta menu musiman.
Restoran dan katering harus mendaftarkan seluruh gerai, dapur serta gudang.
c. Rumah Potong Hewan
Produsen harus mendaftarkan seluruh tempat penyembelihan yang berada dalam satu perusahaan yang sama.
2. Setiap produsen yang mengajukan permohonan Sertifikat Halal bagi produknya, harus mengisi Borang yang telah disediakan. Borang tersebut berisi informasi tentang data perusahaan, jenis dan nama produk serta bahan-bahan yang digunakan.
3. Borang yang sudah diisi beserta dokumen pendukungnya dikembalikan ke sekretariat LP POM MUI untuk diperiksa kelengkapannya, dan bila belum memadai perusahaan harus melengkapi sesuai dengan ketentuan.
4. LPPOM MUI akan memberitahukan perusahaan mengenai jadwal audit. Tim Auditor LPPOM MUI akan melakukan pemeriksaan/audit ke lokasi produsen dan pada saat audit, perusahaan harus dalam keadaan memproduksi produk yang disertifikasi.
5. Hasil pemeriksaan/audit dan hasil laboratorium (bila diperlukan) dievaluasi dalam Rapat  Auditor  LPPOM MUI. Hasil audit yang belum memenuhi persyaratan diberitahukan kepada perusahaan melalui audit memorandum. Jika telah memenuhi persyaratan, auditor akan membuat laporan hasil audit guna diajukan pada Sidang Komisi Fatwa MUI untuk diputuskan status kehalalannya.
6. Laporan hasil audit disampaikan oleh Pengurus LPPOM MUI dalam Sidang Komisi Fatwa Mui pada waktu yang telah ditentukan.
7. Sidang Komisi Fatwa MUI dapat menolak laporan hasil audit jika dianggap belum memenuhi semua persyaratan yang telah ditentukan, dan hasilnya akan disampaikan kepada produsen pemohon sertifikasi halal.
8. Sertifikat Halal dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia setelah ditetapkan status kehalalannya oleh Komisi Fatwa MUI.
9. Sertifikat Halal berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal penetapan fatwa.
10. Tiga bulan sebelum masa berlaku Sertifikat Halal berakhir, produsen harus mengajukan perpanjangan sertifikat halal sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan LPPOM MUI.
Skema Prosedur Sertifikasi Halal

Skema Prosedur Sertifikasi Halal
Tata Cara Pemeriksaan (Audit)
Pemeriksaan (audit) produk halal mencakup:
1. Manajemen produsen dalam menjamin kehalalan produk (Sistem Jaminan Halal).
2. Pemeriksaan dokumen-dokumen spesifikasi yang menjelaskan asal-usul bahan, komposisi dan proses pembuatannya dan/atau sertifikat halal pendukungnya, dokumen pengadaan dan penyimpanan bahan, formula produksi  serta dokumen pelaksanaan produksi halal secara keseluruhan.
3. Observasi lapangan yang mencakup proses produksi secara keseluruhan mulai dari penerimaan  bahan, produksi, pengemasan dan  penggudangan serta penyajian untuk restoran/catering/outlet.
4. Keabsahan dokumen dan kesesuaian secara fisik untuk setiap bahan harus terpenuhi.
5. Pengambilan contoh dilakukan untuk bahan yang dinilai perlu.
Masa Berlaku Sertifikat Halal
Sertifikat Halal hanya berlaku selama 2 (dua) tahun, sedangkan untuk daging yang diekspor Surat Keterangan Halal diberikan untuk setiap pengapalan.
Sistem Pengawasan
1. Perusahaan wajib mengimplementasikan Sistem Jaminan Halal sepanjang berlakunya Sertifikat Halal.
2. Perusahaan berkewajiban menyerahkan laporan audit internal  setiap 6 (enam) bulan sekali setelah terbitnya Sertifikat Halal.
3. Perubahan bahan, proses produksi dan lainnya perusahaan wajib melaporkan dan mendapat izin dari LPPOM MUI.

Prosedur Perpanjangan Sertifikat Halal

1. Produsen harus mendaftar kembali dan mengisi borang yang disediakan.
2. Pengisian borang disesuaikan dengan perkembangan terakhir produk.
3. Produsen berkewajiban melengkapi kembali daftar bahan baku, matrik produk versus bahan serta spesifikasi, sertifikat halal dan bagan alir proses terbaru.
4. Prosedur pemeriksaan dilakukan seperti pada pendaftaran produk baru.
5. Perusahaan harus sudah mempunyai manual Sistem Jaminan Halal sesuai dengan ketentuan prosedur sertifikasi halal di atas.
Pemutakhiran Terakhir ( Sabtu, 14 Juni 2008 )

Sumber http://www.halalmui.org

Penggunaan plasenta dalam dunia kosmetika sudah tidak asing lagi, sebagai sabun krem ataupun lotion. Begitu maraknya saat ini produk yang mengandung plasenta ada di pasaran. Tapi apakah konsumen mengetahui darimana asal muasal plasenta yang ada dalam krem malam ataupun sabun yang mereka gunakan ? terutama bagi konsumen muslim yang sudah punya rambu-rambu yang jelas dalam menggunakan suatu produk.

Dari survey pasar yang dilakukan oleh LPPOM MUI di daerah jabotabek, ditemukan bahwa produk-produk yang dijual di pasaran yang ada di jabotabek memiliki kesamaan merk dan asal negara produk tersebut dibuat. kebanyakan produk yang mengandung plasenta yang dijual dalam bentuk sabun, krem malam dan lotion. Produk yang mengandung plasenta ini sebagian besar disuplai dari negara cina, taiwan serta beberapa produk lokal.

Apa sebetulnya plasenta ? Plasenta merupakan zat nutrisi yang digunakan oleh janin selama masa pertumbuhan dan perkembangannya. Plasenta ibarat lumbung makanan bagi bayi yang masih di dalam perut. Ketika bayi telah lahir, maka ia akan segera membutuhkan ASI untuk mencukupi energi dan pertumbuhannya. Akan tetapi selama ia berada di dalam kandungan, plasenta merupakan satu-satunya sumber makanan baginya.

Plasenta ini ada hampir pada semua makhluk hidup yang hamil di dalam dan menyusui anaknya (mamalia), termasuk manusia. Di Indonesia, plasenta lebih dikenal dengan sebutan ari-ari. Ari-ari keluar dari perut ibu
bersamaan dengan proses kelahiran bayi.

Plasenta yang sering digunakan untuk kosmetika atau produk kesehatan tersebut dapat berasal dari plasenta hewan (kambing, sapi, dan lain-lain) atau dari plasenta manusia.

Yang paling banyak digunakan justru plasenta manusia yang banyak terdapat di rumah sakit atau rumah bersalin. Penggunaan organ tubuh manusia ini bukan hanya terjadi di luar negeri, tapi juga sudah dikembangkan di tanah air.

Kebanyakan produk yang dijual dikemas dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh konsumen, alias masih dalam bahasa asli negara asalnya. Beberapa produk , label yang tertera pada kemasan sama sekali tidak informatif, bahkan apa dan bagaimana fungsi produk tersebut. Yang tertera jelas hanya informasi bahwa produk tersebut berasal dari Cina.

Dalam rangka memberikan kejelasan pada masyarakat luas dan menghindari kesalahpahaman, secara khusus MUI telah membahas masalah ini secara khusus. Hal ini menurut MUI karena banyaknya desakan
dan keresahan yang timbul di masyarakat akibat pro dan kontra penggunaan organ tubuh manusia tersebut.
antara lain :
1. Penggunaan obat-obatan yang mengandung atau berasal dari bagian organ tubuh manusia, hukumnya adalah haram. Kecuali dalam keadaan darurat dan diduga kuat dapat menyembuhkan menurut keterangan dokter ahli & terpercaya.

2. Penggunaan air seni manusia hukumnya adalah haram. Kecuali dalam keadaan darurat dan diduga kuat dapat menyembuhkan menurut keterangan dokter ahli terpercaya.

3. Penggunaan kosmetika yang mengandung atau berasal dari bagian
organisme manusia, hukumnya adalah haram. Kecuali setelah masuk ke dalam
proses Istihahalah.
Al-Istihalah adalah perubahan suatu benda menjadi benda lain yang berbeda dalam semua sifat-sifatnya dan menimbulkan akibat hukum : dari benda najis atau Mutanajjis menjadi benda suci dan dari benda yang diharamkan menjadi benda yang dibolehkan (mubah) atau perubahan zat yang menjadi suatu produk yang baru, maka produk tersebut adalah suci dan halal, karena sifat najis bahan asal sudah hilang.