Beberapa rumah makan seringkali menuliskan kata 100 % halal di etalase warungnya..dengan harapan konsumen muslim akan singgah dan tidak ragu ragu makan di warung tersebut. Kadang malah ada beberapa rumah makan mengundang ustad dan mengajak anak yatim dari sebuah panti asuhan untuk doa syukuran menandai bahwa rumah makan yang akan mereka buka layak dikonsumsi oleh umat muslim. Siapa yang bisa menjamin ?

Ada seorang teman bercerita, pernah suatu kali bapaknya mengajak dia makan di rumah makan mie ayam yang cukup terkenal di ibukota, sang bapak dengan gaya cueknya masuk ke dapur rumah makan tersebut, seraya menepuk petugasnya sambil bilang “jangan lupa ya lemak nya”  jawab sang petugas “lemak apa pak ? kemudian kata si bapak..lemak babi”  haya..aku udah biasa makan…” masak aku mesti bilang lagi”..kemudian dijawab kembali oleh si petugas..oh itu..pasti pak gak ketinggalan…seloroh petugas tersbut sambil tersenyum.  Bapakku keluar dari dapur trus langsung ngeloyor ngajak teman ku pulang…Berabe…ternyata yang dijamin 100 % halal malah pake lemak babi…

jadi kalok gitu langkah apa yang mesti kita lakukan ? selain rumah makan yang kita singgahi kudu punya sertifikat halal..kita pun harus menjadi auditor yang kritisi dalam setiap mencermati makanan yang kita makan.

berikut beberapa bahan yang mesti dikritisi:

(di tulis ulang dari (sumber) : jurnal halal no 75 desember 2008 judul tulisan “Produk Franchise Halal masih minim”)

  1. Daging, baik daging sapi, domba, kerbau maupun ayam. Jangan sampai kita mengkonsumsi daging glongongan atau ayam tiren yang termasuk golongan bangkai, atau hewan disembelih dengan tidak sesuai dengan syariat islam. Penggunaan Bahan baku yang bersertifikasi halal mutlak diperlukan dalam kasus ini. Daging olahan ini banyak dipergunakan dalam produk burger, kebab, hotdog, ayam goreng dan produk olahan lainnya.
  2. Penggunaan Arak, mirin, ang ciu, wine, anggur, dan bahan lain yang mengandung alkohol. Biasanya digunakan pada produk chinese food, japanese food, aneka mie, hidangan kopi dengan alkohol dan makanan ala barat lainnya. Penggolongan bahan tersebut masuk kedalam golongan khamar(minuman keras) yang diharamkan dalam ajaran islam.
  3. Penggunaan lap chong (minyak babi), pada bakmi dan bakso, lap chong ini bersumber dari minyak atau lemak babi yang dimasak terlebih dahulu hingga akhirnya menghasilkan kaldu. Kaldu yang dicampur dengan minyak ini disebut lap chong. Bahan lain yang mesti diwaspadai adalah bahan bahan yang disebutkan dibawah ini. Bukan tidak mungkin bahan tersebut mengandung unsur hewani, asam amino, emulsifier hingga protein.
  4. Minyak goreng, margarine dan mentega pada daging olahan dan beragam produk lainnya. Waspadai penggunaan bahan lemak hewani didalamnya.
  5. Penggunaan keju, coklat, meises, sour cream seperti pada burger, crepes, roti dan donut. Bisa saja menggunakan aneka lemak hewani, gelatin maupun emulsifier yang berasal dari hewan.
  6. Penggunaan saos tomat, cabe, mayonnaise pada crepes, kebab, burger hotdog.
  7. Pemanis dan pewarna buatan pada aneka ragam produk minuman. Waspadai bahan kimiawi yang bisa menggangu kesehatan tubuh.
  8. Aneka bahan pengembang, emulsifier flavour yang tidak terlihat secara kasat mata apda penyajian. Bahan bahan diatas bisa saja menggunakan bahan yang berasal dari hewan yang tidak jelas aspek kehalalannya.