Batam betul betul ingin mendongkrak pariwisata nya dengan menjual kuliner nusantara kepada setiap turis mancanegara. Terutama turis singapura dan malaysia. Namun sudah siapkah batam menghadapi pertanyaan dari para turis muslim mengenai kehalalan makanan nusantara yang disajikan tersebut ?

http://batampos.co.id/metropolis/metropolis/angkat_pamor_masakan_nusantara/

Atau karena mayoritas masakan yang disajikan di batam adalah masakan daerah dari suku tertentu yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman, jadi mungkin tidak perlu diragukan kehalalannya ? Mungkinkah jika pemiliknya adalah seorang Haji, akan menggunakan bahan yang tidak halal dalam masakannya ? Cukupkah kepercayaan kita berdasarkan hal-hal yang demikian ?. Sementara mayoritas turis terutama yang sering datang dari malaysia sering mempertanyakan status kehalalan rumah makan yang ada di batam. Sangat sulit memilih rumah makan halal di sebuah negara yang berpenduduk mayoritas muslim, dan sangat mudah sekali mencari rumah makan halal di negara singapura karena pengaturan rumah makan disana sudah dengan jelas memisahkan dan menghormati hak-hak penduduk muslimnya.

Tapi kalau dinas pariwisata batam sudah memperhatikan hal tersebut, mungkin sudah tidak ada kendala lagi bagi batam untuk mendongkrak pariwisata nya dengan menjual wisata kuliner. jadi tidak perlu jauh-jauh untuk menikmati coto makassar, soto medan, nasi rawon, sate madura atau masakan bebek bali karena semuanya sekarang sudah ada di batam. Sudah terjaga kehalalan dan kebersihannya.  Mudah-mudahan pesta masakan nusantara ini tidak hanya pesta “satu malam” saja di hotel berbintang (meskipun hotelnya pun belum mempunyai restaurant yang bersertifikat halal) namun juga sekaligus menarik minat turis tersebut untuk datang “setiap saat” ke batam, sehingga bisnis restaurant/rumah makan di batam pun ikut terdongkrak.

Pilihan makan tidak hanya didominasi oleh turis non muslim dari negara singapura yang datang tiap-tiap akhir pekan, ke food court food court atau warung -warung tenda yang memang bebas menjual minuman beralkohol ataupun kedai kedai kopi di daerah nagoya yang banyak menawarkan makanan ala chinese. Namun wisata kuliner yang dijual pun memberikan hak yang sama, bagi turis muslim yang  ingin menikmati makanan nusantara, tidak dicampur dengan hingar bingar musik karaoke dan bau minuman keras beralkohol.

Bagi turis non muslim tidak ada halangan untuk menikmati masakan apa saja kan ? tapi bagi umat muslim baik turis muslim maupun masyarakat setempat, tentunya perlu mendapatkan hak pelayanan yang baik dari pemerintah untuk mendapatkan kenyamanan tersebut. Artinya sebagai muslim yang baik dan kafah tentunya “tidak akan datang” ke sebuah rumah makan yang masih belum jelas status kehalalannya.

jadi apa kelanjutannya dari pesta masakan nusantara yang sudah diadakan waktu itu ? …kita tunggu …