Maret 2009


Para dokter Amerika berhasil mengeluarkan cacing yang berkembang di otak seorang perempuan, setelah beberapa waktu mengalami gangguan kesehatan yang ia rasakan setelah mengkonsumsi makanan khas meksiko yang terkenal berupa daging babi, ham burger (ham = babi, sebab aslinya, hamburger adalah dari daging babi, dan ketika dipasarkan di negara muslim diganti dengan daging sapi -pent).
Sang perempuan menegaskan bahwa dirinya merasa capek-capek (letih) selama 3 pekan setelah makan daging babi. Dan para dokter di rumah sakit “May Clinics” di negara bagian “Arizona” telah melakukan pembedahan terhadapnya di rumah sakit tersebut setelah mereka berhasil mendeteksi “adanya rasa sakit” di bagian otak karena adanya cacing yang tumbuh di dalamnya. Dan akhirnya para dokter memberita hukan bahwa mereka harus melakukan operasi secepatnya untuk bisa mengobati sang perempuan tersebut.

Para dokter menegaskan bahwa makanan daging babi yang terkenal itu telah dikonsumsi oleh sang perempuan AS di Meksiko, dan mengandung cacing yang dikenal dengan nama “taenia solium” yaitu cacing yang masuk ke dalam tubuh manusia dari jalan makanan yang tidak sempurna ketika dimasak.
Josef Seirphin, salah seorang dokter perempuan di rumah sakit tersebut menjelaskan bahwa telur cacing menempel di dinding usus pada tubuh sang perempuan tersebut, kemudian bergerak bersamaan dengan peredaran darah sampai ke ujungnya, yaitu otak. Dan ketika cacing itu sampai di otak, maka ia menyebabkan sakit yang ringan pada awalnya, hingga akhirnya mati dan tidak bisa keluar darinya. Hal ini menyebabkan dis-fungsi yang sangat keras pada susunan organ di daerah yang mengelilingi cacing itu di otak.
Down Piesira mengatakan, “Sesungguhnya pendapat yang mengatakan adanya cacing di dalam otak terasa sangat asing ….sangat mengagetkan sekali ketika aku menemukan mereka merasakan sakit di bagian otaknya, dan keluarlah cacing dari otaknya. Kejadian ini adalah kejadian besar yang menyakitkan.”

Akhirnya, sang perempuan menerima untuk dioperasi –kejadian ini terjadi pada sepekan yang lalu (laporan ini ditulis pada tanggal 14 April 2001 -pent)– dalam waktu 6 jam berturut-turut untuk mengeluarkan cacing yang ada di dalam otak kepalanya. Dan para dokter melakukan pembiusan lokal, dimana sang perempuan harus dalam keadaan sadar dan bisa berfikir ketika dioperasi, sebab hal itu dilakukan di organ yang sangat vital, yaitu otak; dan harus diajak bicara selama operasi sehingga operasi itu tidak membawa efek samping sedikitpun terhadap otak perempuan itu. Pada akhirnya, para dokter menemukan satu ekor cacing yang sudah rusak dan mengeluarkannya tanpa ada satu dampak negatif pun.

Josef Seirphin, dokter perempuan yang mengetuai pengobatannya, mengatakan, “Ini adalah kejadian yang sangat beruntung, sebab kami belum pernah menemukan di otaknya selain satu cacing saja.” Josef Seirphin pun bergegas mengobatinya. Dan para rekan dokter lainnya menegaskan bahwa mereka butuh waktu untuk memonitor kesehatannya untuk mengembalikan kesehatannya selama 6 bulan. Dan hal itu sampai kini masih menyebabkan sang perempuan mengalami gejala aneh dan kesulitan lainnya.

Penyakit-penyakit Yang Disebabkan Daging Babi

Para dokter menegaskan bahwa penyakit-penyakit “cacing pita” merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang terjadi melalui konsumsi daging babi. Ia berkembang di bagian usus 12 jari di tubuh manusia, dan beberapa bulan cacing itu akan menjadi dewasa. Jumlah cacing pita bisa mencapai sekitar 1000 ekor dengan panjang antara 4 – 10 meter, dan terus hidup di tubuh manusia dan mengeluarkan telurnya melalui BAB (buang air besar).
Ketika seseorang mengkonsumsi daging babi, maka larva yang ada di dalamnya akan menjadi cacing dalam perut manusia. Cacing ini akan menyebabkan seseorang merasa lemah, letih. Dan kekurangan vitamin B-12 yang menyebabkan terjadinya kekurangan darah, terkadang bisa menyebabkan munculnya penyakit pada syaraf otak, semisal dis-fungsi syaraf pusat.
Larva-larva pada sebagian keadaan bisa mencapai otak dan menyebabkan terjadinya “sawan” atau naiknya tekanan dalam syaraf, pusing yang sangat, atau bahkan bisa menyebabkan lumpuh. Dan mengkonsumsi daging babi yang tidak sempurna dimasak juga menyebabkan adanya cacing rambut. Ketika cacing ini sampai di usus 12 jari, maka akan keluar larva yang sangat banyak setelah 4 atau 5 hari dan kemudian masuk ke dalam dinding lambung. Kemudian ia masuk ke dalam darah, kemudian masuk ke sebagian besar jaringan organ tubuh. Larva kemudian berjalan persendian dan menjadi besar, maka orang tersebut akan menderita sakit seperti nyeri otot yang sangat. Terkadang penyakit itu berkembang hingga terjadi dis-fungsi kerja otak, dis-fungsi otot jantung dan paru-paru, ginjal, syaraf pusat. Dan terkadang penyakit ini bisa menyebabkan kematian, dan ini kecil persentasenya.

Maha benar Allah yang telah berfirman, yang artinya :”Hanya saja diharamkan atas kalian bangkai, darah, daging babi, dan hewan yg disembelih untuk selain Allah. Maka siapa yang dalam keadaan terpaksa sedangkan ia tidak menginginkannya lagi tidak melampaui batas maka tidak ada dosa atasnya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Baqarah : 173)
sumber : http://labbaik.multiply.com/journal/item/464

Iklan

sumber dr sini
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dinas Peternakan Jawa Barat mengimbau masyarakat konsumen umum di Kota Bandung dan Kota Bogor, agar berhati-hati dalam membeli produk dendeng/abon. Imbauan itu dilontarkan terkait ditemukannya beberapa merek dendeng/abon, yang berdasarkan pengujian laboratorium ditemukan kandungan daging babi namun mencantumkan label halal pada kemasannya.

Demikian dikemukakan Kepala Dinas Peternakan Jabar H. Koesmayadie, didampingi Kepala Bidang Kesehatan Hewan-Kesmavet, Nana M. Adnan, di Bandung, Selasa (24/3).

Koesmayadie mengatakan, ditemukannya produk dendeng/abon mengandung daging babi, setelah melalui pengujian rutin oleh Balai Penyidikan Penyakit Hewan dan Kesmavet (BPPHK) Cikole, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat.

Di Bandung mereka mengambil 31 sampel bakso sapi dan 15 sampel dendeng sapi dari Pasar Baru, Pasar Andir, Pasar Ujungberung, Pasar Antapani, Pasar Cicaheum, Pasar Cicadas, Pasar Kosambi, dan Pasar Basalamah. Di Bogor diambil 17 sampel bakso sapi dan 4 sampel dendeng sapi dari Pasar Balekambang, Pasar Anyar, dan Pasar Bogor, masing-masing pada 11 dan 26 Februari 2009 lalu.

Dari hasil pemeriksaan, menurut Koesmayadie, ditemukan adanya daging babi pada produk dendeng/abon yang diedarkan oleh penjual di pasar tradisional. Lain halnya bakso sapi, sejauh ini belum terbukti adanya penggunaan campuran daging babi.

“Kendati ditemukan adanya merek-merek dendeng/abon tertentu yang menggunakan bahan daging babi, masyarakat konsumen umum tak perlu panik dan tinggal berhati-hati dalam menentukan pilihan produk yang akan dibeli. Kami juga terus memantau sejauh mana peredaran dendeng/abon yang berbahan daging babi di Jabar, demi kenyamanan dan keamanan para konsumen umum,” kata Koesmayadi.

Mereka menyebutkan, produk dendeng/abon yang sudah terbukti menggunakan bahan daging babi, mereknya berinisial CKS No. SP:0094/13.06/92 dan dendeng berinisial CPM No. SP:030/1130/94, di mana pencantuman Halal pun tak sesuai dengan prosedur.

Selama ini, nomor SP berangka 92 dan 94 diketahui berasal dari Jawa Tengah, namun oleh tim penguji merek CKS ditemukan di Pasar Kosambi dan Pasar Basalamah Bandung, sedangkan merek CPM diambil dari Pasar Anyar Bogor.

Menurut Koesmayadie, pihak-pihak tak bertanggung jawab yang mengedarkan produk dendeng/abon sapi campuran daging babi, dapat mengganggu ketenteraman batin manusia, terutama umat Islam di Jabar. Padahal, Pemprov Jabar melalui Dinas Peternakan Jabar sejak lama selalu menyosialisasikan moto HAUS (Halal, Aman, Utuh, dan Sehat) bagi produk-produk konsumsi berbahan baku hewani serta memasyarakatkan usaha peternakan secara islami bekerja sama dengan MUI.

Jika hanya dilihat dari kepentingan ekonomi, produsennya diduga bertujuan mengambil keuntungan lebih besar dengan mengambil bahan campuran daging babi. Selama ini, bahan yang sering digunakan terutama babi hutan alias bagong, karena harganya jauh lebih murah.

Koesmayadie mengakui, sejumlah kalangan di Dinas Peternakan Jabar mengetahui adanya kebiasaan sejumlah pehobi berburu bagong, yang menjual daging hasil buruannya kepada pembuat dendeng/abon untuk pangsa pasar non-Muslim.

Koesmayadie mempertanyakan motif penjualan produk dendeng/abon yang mengandung daging babi, tetapi dikemas dengan mencatumkan daging sapi dan tulisan halal yang dijual ke pasaran umum. Bahkan, produk ini juga ditemukan di beberapa swalayan dengan harga cukup murah.

Secara terpisah, Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LP POM) MUI Jabar, Prof. Dr. H.A. Surjadi, M.A. mengatakan, produk/merek dendeng/abon merek CPS dan CPM sampai kini belum mendapat sertifikat halal dari MUI. Bahkan, tulisan Halal yang mereka cantumkan dalam kemasan tersebut dibuat oleh perusahaan sendiri secara sepihak.

“Kami juga mendesak pedagang yang menjual merek bersangkutan, agar segera menarik produk tersebut dari peredaran dan tak menjual lagi stok yang ada. Kami juga mengimbau agar konsumen Muslim selalu berhati-hati dan cermat saat berbelanja, dan menyampaikan terima kasih kepada BPPHK Cikole atas laporan hasil pengujian oleh mereka,” katanya.

Sumber: Pikiran Rakyat

TV ONE akan membahas masalah dendeng babi besok pagi 1 april 2009 bersama pakar teknologi pangan dari Universitas Pasundan besok pagi jam 6.30 pada Acara “Apa Kabar Indonesia pagi”

Es krim adalah perpaduan. Perpaduan antara suka cita dan penjelajahan cita rasa. Penikmat es krim mengerti benar akan sebuah cita rasa. Karena bagi mereka, es krim bukan sekedar sebuah produk, tetapi juga bagian dari kehidupan, suatu gaya hidup tersendiri. Mereka menjalani proses kecintaan pada produk bekuan ini, dengan suka cita. Seperti banyak orang yang mencintai coklat, menikmati sensasi rasanya, dan menjadikannya sebagai bagian dari kesenangan. Jilatan demi jilatan meninggalkan kesan tersendiri.

Penikmat es krim tidak mengenal usia, status sosial, tempat tinggal, atau kewarganegaraan. Mendiang presiden AS, Washington dan Thomas Jefferson adalah penggemar es krim di masa hidupnya. Perkembangan teknologi pembuatan es krim, juga membantu tersebarnya konsumen ke seluruh dunia. Dahulu, ketika belum refrigerator (lemari es), es diambil di musim dingin, disimpan di suatu tempat agar tidak cair, dan digunakan pada musim panas. Atau, bisa juga diambil di puncak gunung yang masih ada esnya, dibawa ke kota, ditambah dengan bahan-bahan tertentu seperti jus buah, gula, dinikmati seperti kita menikmati es campur.

Karena saking banyaknya pemakan es krim, penjual es krim juga bejibun. Dari kelas kaki lima hingga restoran di hotel berbintang. Dari industri rumahan hingga perusahaan multinasional. Mutu es krim pun disesuaikan dengan harga dan target pasar yang dibidik.

Es krim, dikelompokkan ke dalam produk olahan susu (dairy product), karena memang bagian terbesar penyusun es krim adalah bahan-bahan yang berasal dari susu. Sesuai namanya, penamaan es krim, karena memang adanya krim dalam produk yang masuk ke dalam kategori makanan penutup ini (dessert). Krim, seperti yang pernah saya singgung di tulisan “Say cheese”, adalah lemak susu. Harga es krim sangat tergantung pada kandungan krim atau lemak susunya. Biasanya dalam ukuran persentase, berkisar antara 10 % dan 18 %. Produk dengan kategori harga ekonomis, mempunyai kandungan lemak susu sekitar 10 %, harga standar mempunyai kandungan lemak susu sebesar 10-12 %, harga premium sekitar 12-15 %, dan super premium antara 15 dan 18%.

Fungsi lemak susu dalam es krim adalah memperkaya cita rasa. Di samping itu, juga mempunyai peran dalam menciptakan tekstur yang lembut. Peran yang tak kalah pentingnya adalah memberikan “body” dan karakteristik pelumeran yang baik. Dalam proses industri, juga memberikan efek pelumasan pada wadah. Hal ini berlawanan dengan sifat bahan non lemak dalam produk es krim, yang cenderung keras dalam peralatan pembeku.

Pembatasan penggunaan lemak susu karena beberapa alasan. Pertama, pertimbangan harga. Kedua, kalori yang tinggi. Tiga, pembatasan kekayaan cita rasa yang berlebihan. Karena berbagai alasan itulah kadang-kadang krim diganti dengan mentega (butter) atau minyak mentega (butter oil atau anhydrous milk fat). Malah pada beberapa produk diganti dengan lemak yang bukan berasal dari susu, seperti penggunaan santan kelapa misalnya.
Selain lemak susu, bahan-bahan lain yang digunakan dalam pembuatan es krim adalah bahan padat non lemak susu (milk solid non fat). Bahan yang termasuk ke dalam kategori ini adalah laktosa (karbohidrat), cassein dan whey (protein) dan mineral. Fungsi protein dalam es krim adalah memperbaiki pengembangan struktur termasuk proses pembentukan emulsi, sifat ”whipping”, kemampuan untuk menahan air sehingga meningkatkan kekentalan dan menurunkan pembentukan kristal es. Mineral dalam bentuk garam seperti sodium citrate dan disodium phosphate berguna dalam memberikan efek ”basah” pada es krim. Sementara garam mineral yang lain seperti calsium phosphate memberikan efek ”kering” pada es krim.

Cita rasa yang manis, sangat diinginkan oleh konsumen es krim. Bahan yang berperan dalam rasa manis disebut bahan pemanis (sweeteners). Biasanya pada industri es krim, bahan yang biasa digunakan sebagai pemanis adalah gula pasir dan gula cair (misalnya glukosa atau fruktosa). Pemanis bertanggung jawab dalam meningkatkan cita rasa. Selain itu, pemanis bisa menurunkan titik beku, sehingga ada air yang tidak beku pada suhu penyimpanan es krim (-15 s.d. -18 derajat celsius). Efeknya adalah, es krim lebih mudah disendok.

Selain itu, untuk menambah kestabilan es krim, tidak terbentuk kristal es selama penyimpanan, diperlukan stabilizer. Bahan-bahan stabilizer yang biasa digunakan adalah gum (locust bean gum, guar gum, xanthan gum), carrageenan, CMC (carboxyl methyl cellulose), sodium alginate, dan gelatin. Masih-masih bahan mempunyai sifat-sifat tersendiri, kadang-kadang dua atau tiga bahan digabungkan untuk menghasilkan sifat es krim yang diinginkan.

Bahan yang tak kalah penting dalam es krim adalah emulsifier. Emulsifier adalah bahan yang bisa mengikat air dan lemak sekaligus. Kalau dulu, orang mempunyai peribahasa ’bak air dan minyak”, artinya tidak akan pernah bisa bersatu. Tetapi emulsifier bisa menyatukan air dan lemak atau minyak. Peribahasa ini pun usang karena eksistensi emulsifier. Jika tak ada emulsifier, maka air dan lemak dalam es krim bisa terpisah selama penyimpanan. Bahan-bahan yang biasa digunakan sebagai emulsifier adalah kuning telur, mono- dan di-gleserida, dan polisorbate 80. Bahan-bahan ini membantu kelarutan ingredient es krim

Titik kriris keharaman

Es krim, bahwa banyak yang suka tidak terbantahkan. Bisa menerbitkan liur, bagi yang melihat gambarnya saja, itu juga banyak yang setuju. Atau, sebagai sumber zat gizi lemak, protein, karbohidrat dan kalsium, bagi anak-anak kita, rasanya kita akan mengamini. Namun, sebagai muslim yang baik kita harus memahami juga bahwa ada bahan-bahan yang juga bisa berasal dari bahan yang tidak jelas status kehalalannya. Terlebih bagi produsen-produsen multinasional, yang tidak memasukkan pertimbangan kehalalan dalam proses produksi mereka.

Bahan-bahan yang perlu dipertanyakan adalah laktosa, whey protein concentrate (WPC) atau whey powder, casein, gelatin (stabilizer), mono dan digleserida dan polisorbate 80 (emulsifier) serta flavor.

Laktosa, WPC, whey powder, dan casein, adalah produk hasil samping industri keju. Pada tulisan ’say cheese ’ saya pernah menyinggung penggunaan enzim rennin dalam proses penggumpalan keju. Jika enzim yang digunakan bukan berasal dari bahan yang halal (misalnya babi atau sapi yang tidak disembelih secara Islami), maka turunan keju ini (laktosa, WPC, whey powder, casein) otomatis menjadi terkontaminasi bahan haram dan najis. Sehingga es krim yang menggunakan bahan ini menjadi haram juga.

Terlebih penggunaan gelatin yang berasal dari tulang dan kulit hewan yang tidak jelas status kehalalannya. Empat puluh persen produksi gelatin dunia dihasilkan dari kulit babi, sisanya dari sapi, kerbau, yacht, dan ikan. Kalau dari sapi, kerbau, atau yacht harus jelas pula status penyembelihannya. Halal atau tidak?

Mono dan digleserida dan polisorbate 80, bersumber dari lemak. Kalau berbicara tentang tentang lemak, maka harus dipastikan apakah hewani atau nabati. Jika hewani harus mengikuti kaedah, tidak berasal dari hewan haram dan disembelih secara Islami.

Untuk memperkaya cita rasa, es krim hadir di depan mata konsumen, jarang dalam rasa tawar. Ada flavor yang mesti ditambahkan. Jika berasal dari flavor buah alami seperti juice buah, mungkin relatif aman. Tetapi jika berasal dari flavor yang dihasilkan oleh flavor house, siapa yang bisa menjamin kehalalannya. Sekalipun flavor tersebut diklaim sebagai nature identical atau artificial flavor. Ada juga flavor yang termasuk digemari tetapi sebaiknya dijauh saja yakni rum and raisin. Karena ada kandungan khamarnya (rum). Jikapun bukan rum, tetapi berasal dari rum essence, tetap juga mesti dihilangkan dari keinginan untuk membelinya. Karena sebagai tindakan preventif, janganlah membiasakan diri untuk mengkosumsi produk yang sensori (rasa, bau) yang menyerupai produk haram. Jadi selalulah membiasakan diri untuk mengkosumsi es krim yang bersertifikasi halal, selain lembut dilidah, juga mendatangkan kenyamanan di hati.

Sumber : Catatan Hendra Utama (facebook.com)

(pernyataan dibawah ini adalah pernyataan dari Bapak Wakil Walikota Batam pada web beliau pada sekitar bulan februari 2009 atas pertanyaan dari seorang penanya)

“Untuk itu kami mengimbau kepada pemilik usaha rumah makan maupun restoran baik yang berada di hotel maupun di luar hotel untuk peduli terhadap sertifikasi label halal haram pada sebuah makanan atau pun minuman yang dikonsumsi masyarakat luas dari LPPOM MUI.

Pengusaha restoran dan rumah makan peduli terhadap sertifikasi halal tersebut kami rasa bahkan menguntungkan mereka sendiri bukan merugikan.

Dengan adanya sertifikat kehalalan tersebut, umat Islam akan merasa nyaman apabila menikmati makanan yang disajikan direstoran atau di rumah makan tersebut. Seperti luar negeri saja contohnya Singapura, Malaysia dan Australia sangat konsen terhadap sertifikat itu, kenapa kita kurang, inilah yang patut kita tiru di Batam.

Sertifikasi yang dikeluarkan LPPOM itu merupakan sub dari MUI. Artinya, mereka yang ada dI LPPOM MUI adalah ulama yang sangat memiliki kridibilitas dan patut bagi kita umat Islam mengikuti itu.

Ir Ria Saptarika, Wakil Walikota Batam
(pernyataan diatas adalah pernyataan dari Bapak Wakil Walikota Batam pada web beliau pada sekitar bulan februari 2009)
sumber : http://www.riasaptarika.web.id