November 2009


Secara global, kanker usus besar merupakan jenis kanker tersering. Di Amerika Serikat, kanker jenis ini menempati urutan ke tiga jenis kanker tersering pada pria dan wanita, serta menempati posisi nomor 2 sebagai penyebab kematian tersering akibat kanker. Di Indonesia, kanker ini termasuk dalam 10 besar kanker tersering.

Kanker usus besar (kolorektal) adalah kanker yang dapat dicegah dan disembuhkan jika ditemukan pada stadium dini. Lebih dari 90% pasien yang terdiagnosis penyakit ini memiliki harapan hidup lebih dari 5 tahun. Seperti umumnya proses timbulnya kanker, kanker usus besar mulanya disebabkan oleh mutasi gen (bagian terkecil sel yang mengkode pembuatan protein). Akibatnya timbul polip di dinding usus. Polip ini merupakan lesi jinak; banyak orang mempunyai polip di dinding ususnya dan tidak menjadi kanker. Tetapi diperkirakan sekitar 5% akan berkembang menjadi kanker. Maka, strategi pencegahan kanker usus besar adalah menghindari faktor-faktor pencetus mutasi gen dan mengetahui serta membuang polip sedini mungkin. Hal-hal yang bisa mencegah kanker usus besar, yaitu :

1. Mengkonsumsi makanan berserat dengan jumlah cukup.

Mengkonsumsi serat sebanyak 30 g/hari terbukti dapat menurunkan risiko timbulnya kanker usus besar sebesar 40% dibandingkan orang yang hanya mengkonsumsi serat 12 g/hari. Kecukupan jumlah serat dapat diperoleh dari mengkonsumsi 8 porsi sayur dan buah, serta dari roti wholemeal.

2. Tidak konsumsi daging

Orang yang banyak mengkonsumsi daging (misal daging sapi, kambing) atau daging olahan lebih dari 160 g/ hari (2 porsi atau lebih) akan mengalami peningkatan risiko kanker usus besar sebanyak 35% dibandingkan orang yang mengkonsumsi kurang dari 1 porsi per minggu. Konsumsi daging merah berhubungan dengan terbentuknya senyawa N-nitroso dalam fases yang dapat mencetuskan kanker usus besar.

3. Menghindari obesitas

Selain faktor risiko untuk penyakit jantung koroner dan diabetes tipe 2, obesitas juga diketahui merupakan faktor risiko untuk kanker usus besar, sehingga dianjurkan untuk mengurangi berat badan bagi yang memiliki berat badan lebih. Berolahraga rutin merupakan suatu cara menurunkan berat badan yang baik, karena juga terbukti bermanfaat mencegah kanker usus besar.

4. Hindari menghirup asap rokok

Asap rokok dan produk tembakau lain sudah terbukti meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker usus besar. Perokok lebih banyak mengalami polip yang berkembang menjadi kanker di usus besar. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan lebih dari 100% risiko pada perokok dibandingkan orang yang tidak merokok.

5. Hindari konsumsi minuman berakohol

Selain merusak hepar, konsumsi minuman berakohol juga berhubungan dengan peningkatan risiko kanker usus besar. Beberapa gejala kanker usus besar meliputi : perubahan pola buang air besar (BAB), terutama feses encer lebih dari 6 minggu. Gejala lainnya adalah perdarahan dari anus, dapat bercampur dengan feses maupun tidak. Pemeriksaan skrining rutin untuk mendeteksi dini kanker usus besar adalah dengan pemeriksaan darah samar dalam feses dan dapat dilanjutkan dengan kolonoskopi. (LHS)

Referensi :

1. White V, Miller R. Colorectal Cancer: Prevention and Early Diagnosis. Med. Progr.35(10):481-5

2. Waspodo A. Kanker Kolorektal.Dharmais Cancer Hospital.www.dharmais.co.id

3. MedicalNewsToday.Ten Things You Can Do to Reduce Your Cancer Risk.2008.

http://www.medicalnewstoday.com

4. Peppone LJ et al. Colorectal Cancer Risk from Cigarette Smoking Increases Over 5 Decades.

American Society of Clinical Oncology.2008.26.Abstract

5. MedicalNewsToday. AICR Calls on Americans to Slash Red Meat Consumption.2008.

http://www.medicalnewstoday.com

Iklan

Protein kedelai direkomendasikan sebagai pangan yang bersifat hipokolesterolemik (menurunkan kolesterol darah). Sinergi diantara komponen protein kedelai memberikan sifat hipokolesterolemik yang maksimal. Variasi uji klinis menunjukkan bahwa konsumsi protein kedelai 25-50 g/hari cukup aman dan efektif mereduksi kolesterol LDL sebesar 4-8 %. Efek terbesar pada orang dengan kondisi hiperkolesterolemia.

Beberapa komponen protein kedelai yang mungkin berperan dalam menurunkan kolesterol darah antara lain :

1.Tripsin inhibitor
Dalam jumlah kecil BBI yang stabil terhadap panas bersifat hipokolesterol dengan meningkatkan sekresi hormon cholecistokinin (CCK) yang akan menstimulasi sintesis asam empedu dari kolesterol. Namun, studi pada hewan tidak menunjukkan efek hipokolesterol ketika tripsin inhibitor ditambahkan pada ransum.

2.Asam fitat
Asam fitat ditemukan pada semua produk protein kedelai non fermentasi dan sangat stabil terhadap panas. Asam fitat mengkelat kuat Zn pada saluran pencernaan sehingga menurunkan absorpsinya. Defisiensi Copper atau tinginya rasio Zn/Copper berkaitan dengan tingginya kolesterol darah. Jadi karena produk kedelai mengandung copper dan asam fitat, maka pengkelatan Zn oleh fitat yang menyebabkan menurunnya rasio Zn/copper. Menurunnya rasio Zn/Copper menyebabkan kolesterol darah akan menurun.

3. Saponin
Saponin stabil terhadap panas dan terdapat pada semua produk protein kedelai, kecuali protein kedelai yang diekstrak dengan alkohol.
Menurunkan kolesterol dengan meningkatkan ekskresi asam empedu.

4. Serat pangan
Serat pangan kedelai menurunkan kolesterol pada manusia yang hiperkolesterol, tetapi tidak meningkat sifat hipokolesterolemiknya ketika ditambahkan pada protein kedelai. Produk protein kedelai yang digunakan pada percobaan umumnya sedikit atau tidak mengandung serat. Jadi serat pangan kedelai nampaknya bukan menjadi faktor utama penurunan kolesterol dari produk kedelai.

5. Efek protein pada hormon
Pada studi di awal, menunjukkan bahwa asam amino lys dan met cenderung meningkatkan level kolesterol, sedangkan arg mempunyai efek sebaliknya. Protein kedelai dibanding protein hewani, mempunyai rasio arg/lis dan arg/met yang lebih tinggi. Tingginya rasio arg/lys pada protein kedelai akan menurunkan sekresi insulin atau glukagon sehingga menghambat lipogenesis. Efek protein kedelai pada konsentrasi insulin dan glukagon dilaporkan bersifat hipokolesterol pada manusia. Pada studi mengunakan hewan percobaan, protein kedelai meningkatkan thyroxin yang secara teoritis akan menurunkan kolesterol, tapi studi pada manusia tidak konsisten.

6. Efek protein pada reseptor LDL
Globulin ( 7S dan 11S) kedelai pada sel kultur meningkatkan aktivitas reseptor LDL (Lovati et al., 1992). Sirtori et al., (1995) menunjukkan bahwa konsumsi protein kedelai meningkatkan aktivitas reseptor LDL manusia. LDL receptor m-RNA level dalam sel mononuklear lebih tinggi pada subyek yang mengkonsumsi protein kedelai dibandingkan kasein (Baum et al., 1998).

7. Efek peptida kedelai pada asam empedu
Protein kedelai yang tambahi dengan protease membentuk 2 fraksi yang berbeda yaitu fraksi ber-BM tinggi yang tidak larut dan fraksi ber –BM (Berat Molekul) rendah yang larut. Fraksi yang tidak larut menurunkan kolesterol pada tikus dengan meningkatkan ekskresi fecal sterol. Protein kedelai meningkatkan ekskresi asam empedu pada hewan, tapi tidak pada manusia.

8. Isoflavon
Isoflavon ada pada semua produk protein kedelai yang dihasilkan melalui proses ekstraksi air. Isoflavon yang diekstrak dari kedelai meningkatkan elastisitas sistem arterial pada wanita tanpa efek pada tingkat lipid darah.
Protein kedelai yang mengandung isoflavon menurunkan kolesterol lebih kuat dibanding protein kedelai saja pada manusia.

Semoga bermanfaat

Mulailah membiasakan diri membaca komposisi bahan yang tertera di balik kemasan.

Jangan mudah tergiur dengan produk makanan yang ditawarkan dengan harga murah. Bisa jadi produk itu terbuat dari bahan yang tak alami dan buruk untuk kesehatan.

Sebab itu mulailah membiasakan diri membaca komposisi bahan yang biasanya tertera di balik kemasan. Ada beberapa bahan yang kurang baik untuk kesehatan dan sebaiknya dihindari.

1. Gula Kristal Rafinasi (Refined Sugar)
Kandungan gula dalam makanan kemasan dapat meningkatkan kadar gula darah, menurunkan sistem kekebalan tubuh, juga memicu kegemukan. Jenis gula ini pun tak memiliki kandungan mineral dan vitamin yang menguntungkan.

Maka itu, carilah makanan kemasan dengan kandungan gula alami (dari buah atau madu). Anda juga bisa menjadikan gula palem atau gula merah sebagai salah satu pilihan konsumsi gula sehat.

2. Zat Pemutih (Bleached White Flour)
Proses pemutihan produk biji-bijian atau tepung biasanya akan menghilangkan sejumlah nutrisi dan serat produk makanan terkait. Jadi pilih produk biji-bijian atau tepung yang tak diproses dengan zat pemutih.

3. Minyak Nabati Cair (Hydrogenated Soybean Oil)
Minyak jenis ini memang memiliki titik leleh tinggi sehingga mempercepat proses memasak. Namun, minyak jenis ini cenderung menghasilkan lemak trans penyebab kolestrol. Efek selanjutnya memicu penyakit jantung dan kanker.

4. High Fructose Corn Syrup
Bahan ini sejenis pemanis buatan yang diproses dari substrat pati jagung. Rasa manis yang dihasilkan jauh melebihi rasa manis gula alami. Konsumsi berlebihan dapat memicu diabetes. Lagipula tak ada kandungan nutrisi dan kalori dari bahan ini.

5. Aspartame/ Saccharin/ Sucralose/ Phenylalkaline
Pemanis buatan ini sangat buruk untuk kesehatan sebab terbuat bukan dari bahan alami. Banyak mengonsumsi pemanis buatan berakibat buruk pada sistem pencernaan dan metabolisme. Jangka panjang, unsur zat kimia pembuatnya juga memicu penyakit kanker.

Kalau selama ini kita selalu membicarakan dan memperhatikan ingredien atau komposisi dari suatu produk pangan, maka kesempatan kali ini kita mencoba untuk melongok pada komposisi suatu produk kosmetik serta pengenalan istilah-istilah dalam kosmetika.

Dulu, perusahaan kosmetika menggantungkan pada bahan-bahan yang memiliki khasiat yang misterius, seperti minyak yang diperoleh dari kura-kura yang meningkatkan peremajaan kulit atau mengencangkan otot yang terdapat di dagu. Kemudian minyak ikan paus, royal jelly yang berasal dari lebah ratu, ekstraks embrio anak ayam, serum darah kuda, dan ekstrak kulit babi yang mempunyai khasiat khusus.

Berikut adalah istilah-istilah yang digunakan sebagai ingredien kosmetika:

Liposome : berbentuk kantung-kantung mikroskopik, terdiri dari berbagai bahan lemak, termasuk fosfolipid. Fosfolipid adalah komponen natural dari membran sel. Namun bahan yang digunakan dalam kosmetika bisa berasal dari alami atau pun sintetik. Jika bahan tersebut tercampur air dengan sempurna , maka fosfolipid akan membentuk bulatan liposome yang akan menangkap bahan yang akan terlarut dalam air atau dalam minyak.

Produsen mengatakan bahwa liposome bertindak seperti sistem pengiriman.Klaim demikian karena dengan adanya kream atau pun lotion, liposom dapat lebih mudah terpenetrasi ke dalam permukaan kulit untuk mendasari lapisan, kemudian meleleh dan menyimpan ingredient lain.

Nayad : adalah nama dagang untuk ekstraks khamir. Berdasarkan literatur, nayad digambarkan sebagai suatu sistem yang baru dimana sel-sel khamirnya diambil serta dimurnikan ratusan kali. Sehingga menghasilkan produk konsentrat tinggi, bebas bau dan ekstraks khamir yang memiliki potensi luar biasa. Namun demikian belum bisa dijelaskan bagaimana cara kerja produk tersebut. Yang diketahui bahwa penggunaan nayad memberikan hasil yang luar biasa, kulit menjadi mulus, tanpa ada kerutan dan garis penuaan.

Vitamin : Sebagaimana halnya pangan yang mengandung vitamin ADEK dan beberapa vitamin B kompleks, maka pengusaha kosmetika pun tidak mau kalah. Dengan adanya penambahan vitamin dalam formula kosmetika, maka kulit akan menjadi lebih baik, terpelihara karena keberadaan vitamin dianggap sebagai pensuplai gizi makanan untuk kulit. Walaupun menurut Direktur FDA divisi kosmetika, Stanley R Milstein Phd belum ada bukti klinis bahwa vitamin-vitamin tersebut dapat mensuplai gizi atau makanan bagi kulit.

Aloe Vera : suatu tanaman dari famili lili yang memiliki sifat sebagai anti iritasi. Sudah dikenal sebelum zaman Cleopatra Plasenta manusia 😛 lasenta telah digunakan sebagai bahan kosmetika sejak tahun 1940. Khasiatnya menghilangkan kerutan, menstimulir pertumbuhan jaringan menjadikan plasenta dikenal sebagai kelompok obat, yang kemudian oleh FDA dinyatakan sebagai misbranded.

Amniotik liquid : Cairan yang berada di sekitar janin yang berfungsi untuk melindungi janin dari benturan fisik. Memiliki keuntungan yang sama dengan plasenta manusia serta penggunaannya tebatas pada penggunaan pelembab,lotion rambut dan perawatan kulit kepala serta shampo. Bahan tersebut yang biasa digunakan untuk kosmetik berasal dari sapi atau lembu jantan.

Kollagen : Bahan ini bisa berasal dari sapi dan babi . Penelitian telah dilakukan pada berbagai tipe dan penggunaan kolagen. Pada kosmetik, kolagen memiliki efek melembabkan, karena kollagen tidak larut air, tetapi sebaliknya menahan air.

Cerebroside : Bahan ini dapat berasal dari hewan atau tanaman. Cerebroside termasuk dalam kelompok glikolipid yaitu terdiri dari bahan lemak dan karbohidrat. Diproduksi secara alami dalam sel epidermal basal, merupakan lapisan kulit paling dalam. Setelah cerebroside terbentuk, maka ia akan tersekresi keluar sel kemudian bertindak sebagai lapisan pelindung. Karena sel baru terbentuk di lapisan dibawah kulit,kulit yang lebih tua akan bergerak menuju permukaan dan menjadi kering.

Bahan yang digunakan dapat bersumber dari sapi, lembu jantan, sel otak babi atau jaringan-jaringan sistem syaraf. (vns,whd)
(SUMBER : HALAL GUIDE INFO)