Mei 2012


Penelitian Ilmiah buktikan penyembelihan cara Islam terbaik

08-Mar-07
Oleh Zuridan Mohd Daud

UMAT Islam seluruh dunia sudah merayakan Idul Adha. Ini merupakan suatu manifestasi semangat pengorbanan tinggi dimiliki oleh umat Islam. Pada hari Idul Adha pastinya terdapat pelaksanaan ibadah korban yang menjadi satu amalan sunah untuk memperingati pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Lazimnya musuh Islam menggunakan isu penyembelihan korban sebagai lambang keganasan umat Islam. Konon disebabkan kebiasaan menyembelih binatang, ada umat Islam yang berani menyembelih manusia. Barat termasuk aktivis hak asasi hewan menganggap perbuatan menyembelih hewan yang dilakukan umat Islam mempamerkan sikap tidak berperikemanusiaan dan keganasan karena banyak darah tumpah ke bumi terutama ketika pelaksanaan ibadah korban pada Idul Adha.

Malah, ketika kampanye antikeganasan dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Barat, mereka menggunakan alasan perlakuan korban ini sebagai satu daripada usaha mereka untuk membuktikan betapa Islam mengajarkan umatnya menjadi ganas.

Di Barat, undang-undang mereka menetapkan supaya hewan diberikan kejutan listrik di kepala sebelum dibunuh, kononnya untuk memastikan hewan itu pingsan terlebih dulu sebelum ia dibunuh. Selain itu, mereka mengklaim bahwa tindakan mereka itu bertujuan untuk mencegah binatang merasa sakit sebelum mati.

Tetapi, persoalannya apakah dakwaan dan pandangan Barat ini benar? Pendirian Islam mengenai apa yang boleh dimakan dan apa diharamkan adalah jelas yang dimaksud adalah daging.

Di dalam Surah al-Maidah ayat 5, Allah menyatakan: Diharamkan kepada kamu (memakan) bangkai, darah, daging babi, binatang disembelih karena yang lain daripada Allah, mati tercekik, mati dipukul, mati jatuh, mati ditanduk, mati dimakan binatang buas, kecuali sempat kamu sembelih).

Selain itu, Islam juga mengharamkan memakan daging hewan tanpa disembelih seperti mencekik leher, memukul dengan batu atau cara selain penyembelihan. Islam mengajar supaya penyembelihan dilakukan dengan pisau tajam untuk memotong bagian leher untuk memutuskan dua urat utama atau urat nadi. Sabda Rasulullah: (Dan apabila kamu menyembelih maka lakukan dengan baik dan hendaklah kamu menajamkan alat penyembelihan supaya penyembelihan rasa rehat – tidak terlalu sakit). Riwayat Imam Muslim.

Kaidah penyembelihan secara Islam dikatakan menyiksa hewan dikaji oleh pakar dari Jerman yaitu Profesor Wilhelm Schulze dan rekannya, Dr Hazim di Sekolah Kedokteran Veterinar, Universiti Hannover, Jerman. Tujuannya adalah untuk mencari cara terbaik proses mematikan hewan untuk mendapatkan daging bersih dan segar.

Penelitian itu berjudul, `Percobaan untuk mengukur tingkat rasa kesakitan dan kesadaran mengikuti cara konvensional dan agama ketika menyembelih lembu atau kambing’, menyimpulkan cara Islam terbaik karena lebih berperikemanusiaan.

Mereka menyimpulkan bahwa perlakuan mengenakan kejutan listrik ke atas hewan sebelum dibunuh seperti dilakukan oleh Barat, mendatangkan kesakitan pada hewan.

Dalam penelitian itu, beberapa alat ukur dipasang di pelbagai tempat pada otak hewan. Alat itu dimasukkan melalui pembedahan khusus dan hewan tersebut dibiarkan untuk pulih selama beberapa minggu.

Beberapa ekor hewan itu disembelih mengikuti cara Islam menggunakan tindakan pantas, memotong urat leher dengan pisau tajam. Beberapa ekor hewan lain dibunuh mengikuti cara Barat menggunakan Pistol Kejutan (CBP).

Ketika percobaan dijalankan, rekaman electroencephalograph (EEG) dan electrocardiogram (ECG) dicatat untuk mengetahui keadaan otak dan jantung semua hewan dimaksud ketika proses penyembelihan secara Islam dan kaidah CBP dilaksanakan di Barat.

Hasil percobaan diperoleh menurut kaidah Islam, tiga detik pertama ketika disembelih, EEG tidak mencatat perubahan pada grafik sama seperti sebelum penyembelihan. Keadaan itu menunjukkan bahwa hewan itu tidak berasa sedikitpun kesakitan ketika pisau memotong urat leher hewan tersebut. Untuk tiga detik kedua, EEG mencatat keadaan tidur atau tidak sadar diri. Ini disebabkan banyak darah mengalir keluar. Setelah enam detik, EEG mencatat paras sifar, menunjukkan hewan itu tidak sakit. Ketika pesan otak (EEG) jatuh ke paras sifar, jantung masih berdenyut dan badan hewan masih dapat bergerak akibat reaksi saraf tunjang, menyebabkan semua darah keluar dari badan hewan sehingga menghasilkan daging yang aman untuk dimakan, menurut penyelidikan itu.

Bagaimanapun, ketika mengkaji cara CBP, hewan dibuat pingsan dengan tembakan CBP dan EEG menunjukkan tanda-tanda amat sakit pada hewan itu.

Jantung hewan itu berhenti berdenyut lebih awal setelah terkena kejutan dibanding hewan yang disembelih. Keadaan itu menyebabkan banyak darah masih terkumpul dalam daging dan ia sebenarnya tidak aman untuk dimakan.

Penelitian terbaru juga menunjukkan cara mematikan hewan yang digunakan oleh Barat dan bukan Islam, turut dikatakan menjadi penyebab penularan wabah penyakit lembu gila dari hewan kepada manusia.

Hal ini dibuktikan melalui penelitian yang dijalankan oleh Universiti Texas A&M dan Agen Pemeriksaan Makanan Kanada. Mereka menyatakan, cara kejutan pneumatik (yaitu menembak bola besi ke otak lembu diikuti dengan mengenakan tekanan udara tinggi) menyebabkan kerusakan selaput otak serta saraf tunjang hewan itu.

Laporan ini amat mengejutkan karena selaput otak dan saraf tunjang adalah bagian yang paling rawan bila dijangkiti penyakit lembu gila dan apabila ia hancur akibat cara mematikan tersebut, bakteria serta protein penyakit lembu gila akan merebak ke daging.

Malah, lebih mengejutkan, cara ini digunakan lebih dari 30% hingga 40% lembu yang dimatikan untuk diambil dagingnya di Amerika Serikat. Penelitian lain yang dijalankan di seluruh dunia juga mendapati daging menjadi lebih lembut dibanding daging yang tidak disembelih menurut Islam seperti penelitian yang dilakukan terhadap ayam yang disembelih dan tidak disembelih.

Penelitian itu jelas membuktikan bahawa penyembelihan menurut kaidah Islam adalah cara yang terbaik bukan saja untuk kebaikan hewan itu sendiri tetapi juga memberi manfaat kesehatan kepada manusia.

Selain itu, Islam mengenakan beberapa langkah lain untuk memastikan penyembelihan ini dapat disempurnakan dengan lebih baik. Dalam aspek ini, Nabi Muhammad pernah mengarahkan supaya senantiasa belas kasihan terhadap hewan dengan memastikan pisau yang digunakan benar-benar tajam untuk mengurangi rasa sakit. Islam juga menjelaskan bahwa proses menyembelih perlu dilakukan dengan tepat untuk memutuskan saluran darah ke saraf otak karena saraf ini yang menghantar pesan kesakitan kepada otak.

Dengan itu, hewan tidak akan merasa sakit ketika disembelih. Pergerakan dan kekejangan yang terjadi setelah hewan itu disembelih, bukan akibat kesakitan tetapi akibat denyutan diikuti keadaan tenang. Proses itu menyebabkan darah dikeluarkan dari badan sepenuhnya, kata Dr Aisha El-Awady, yang menulis dalam Islamonline pada tahun 2003. Menjelaskan lagi proses penyembelihan Islam, Dr Aisha menyatakan, kaidah Islam juga memastikan saluran udara, kerongkong dan dua urat leher dipotong tanpa merusakkan saraf tunjang.

Kaidah ini memberi peluang darah keluar sepenuhnya dari badan hewan dan menghasilkan daging yang bersih”. Jika saraf tunjang terputus, fiber saraf ke jantung akan rosak menyebabkan jantung terhenti dan darah akan terkumpul di dalam daging. Darah perlu dikeluarkan sepenuhnya sebelum kepala dicerahkan. Keadaan ini akan membersihkan daging itu karena darah bertindak sebagai perantara kepada mikro organisma,” kata Dr Aisha dalam penelitiannya.

Dengan bukti ini, seharusnya aktivis hak asasi Barat berkampanye supaya menggunakan kaidah Islam ketika proses penyembelihan serta mengarahkan kecaman mereka terhadap kaidah selain daripada Islam yang terbukti kejam dan tidak berperikemanusiaan.

http://www.muslimsocial.com

Sabtu 26 mei di Hotel PIH batam center akan diselenggarakan acara pelatihan internal auditor perusahaan se kepri, menurut bapak wakil direktur khairuddin nasution sampai hari ini (kamis, 24 mei 2012) sudah ada sekitar 75 perusahaan yg mendaftar utk ikut serta dalam acara tersebut. Nara sumber yang didatangkan dari LPPOM MUI pusat yaitu bpk Muslih, juga akan menyampaikan Sistem Jaminan Halal yg menjadi pedoman wajib utk pengurusan sertifikat halal. Acara ini rencana akan dimulai pada pukul 9 pagi dihadiri juga oleh Kakanwil Kemenag dan Gubernur Kepulauan Riau. Undangan yg disebar utk umum terutama ke majelis taklim dan ormas juga mahasiswa polteknik batam, antusias mahasiswa didukung oleh bapak Muhammad Zaenudin, selaku dosen dipoliteknik batam dan kapasitas beliau selaku wakil direktur LPPOM MUI Kepri. Perusahaan yg sudah bersertifikat halal se kepri 700 an lebih, diharapkan juga mendukung program acara ini untuk memperkuat sistem jaminan halal yg sudah ditetapkan oleh LPPOM MUI pusat.
Harapan pengurus LPPOM MUI kepri acara ini bisa sukses atas dukungan semua pihak sehingga tema acara yaitu “peranan Internal auditor untuk menjaga produk Sistem jaminan halal dan menyongsong kepri sebagai lokomotif halal” bisa terwujud.

Hukum Menggunakan Insulin

Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup manusia, maka kebutuhan hidup manusia terhadap insulin semakin bertambah. Karena secara alami, dengan bertambahnya usia, maka fungsi pankreas akan semakin menurun. Dengan menurunnya fungsi pankreas, maka menurun pula fungsi insulin yang dapat dihasilkan tubuh manusia. Dengan menurunnya insulin dalam tubuh manusia, maka kemampuan tubuh manusia untuk memecah gula dalam darah akan semakin turun. Pada saat itulah manusia terkena penyakit yang disebut kencing manis (diabetes melitus), dan memerlukan suntikan insulin.
Pernah dicoba membuat insulin dari ekstraksi pankreas sapi. Namun hasilnya kurang menggembirakan, meskipun gennya cocok dengan sapi. Dari seekor sapi, hanya dihasilkan insulin 1/2 cc saja, yang berarti tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seorang sekali suntik. Percobaan pembuatan insulin dari pankreas kera, menunjukkan gennya tidak cocok dengan manusia. Akhirnya dicoba membuat insulin dengan ekstraksi pankreas babi, dan ternyata hasilnya selain gennya cocok dengan manusia, jumlah cc-nya pun mencukupi.
Mula-mula insulin dibuat dari gen pankreas babi yang diklon dalam bakteri. Dalam waktu 24 jam, dari satu gen menghasilkan milyaran gen. Kini insulin dibuat dari gen pankreas babi yang diklon dalam ragi. Karena organisme ragi lebih kompleks dari bakteri, maka hasilnya lebih baik. Dari satu gen pankreas babi yang diklon dalam ragi pada tabung fermentor kapasitas 1.000 liter dihasilkan 1 liter insulin. Insulin dari bahan dan proses seperti itulah yang kini beredar di seluruh dunia.
Hal ini boleh-boleh saja selama tidak ditemukan obat yang lain. Yahya bin Syaraf an-nawawi menerangkan dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab
وَأَمَّا التَّدَاوِي بِالنَّجَاسَاتِ غَيْرِ الْخَمْرِ فَهُوَ جَائِزٌ سَوَاءٌ فِيهِ جَمِيعُ النَّجَاسَاتِ غَيْرُ الْمُسْكِرِ هَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ وَالْمَنْصُوصُ وَبِهِ قَطَعَ الْجُمْهُورُ
Adapun berobat dengan bahan-bahan najis selain khamr itu boleh. Hal ini berlaku pada seluruh jenis najis selain yang memabukkan. Ini adalah pendapat al-Madzhab, al-Manshush dan Jumhur ulama memastikannya (sebagi keputusan hukum tunggal).S
ebagai pertimbangan dapat pula diqiyaskan apa yang termaktub dalam Al-Iqna’ fi Hill Alfazh Abi Syuja’ karangan Muhammad Khatib as-Syirbini yang membolehkan seseorag menggunakan tulang najis sebagai pengganti atau penyambung tulang yang telah rusak.
وَلَوْ وَصَلَ عَظْمَهُ لِحَاجَةٍ بِنَجَسٍ مِنْ عَظْمٍ لَا يَصْلُحُ لِلْوَصْلِ غَيْرُهُ عُذِرَ فِي ذَلِكَ فَتَصِحُّ صَلَاتُهُ مَعَهُ

Dan bila seseorang menyambung tulangnya karena dibutuhkan, dengan tulang najis yang selainnya tidak layak untuk dijadikan penyambung, maka ia dianggap udzur dalam hal itu. Oleh karenanya, shalatnya sah besertaan tulang tersebut (berada di tubuhnya).
Atau juga apa yang disampaikan oleh Muhammad Khatib as-Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Alfazh al-Minhaj mengenai kesucian barang najis yang telah berubah bentuknya
وَيَطْهُرُ كُلُّ نَجَسٍ اِسْتَحَالَ حَيَوَانًا كَدَمِ بِيْضَةٍ اِسْتَحَالَ فَرَخًا عَلَى الْقَوْلِ بِنَجَاسَتِهِ وَلَوْ كَانَ دُوْدَ كَلْبٍ لِأَنَّ لِلْحَيَاةِ أَثَرًا بَيِّنًا فِيْ دَفْعِ النَّجَاسَةِ وَلِهَذَا تَطْرَأُ بِزَوَالِهَا وَ لِأَنَّ الدُّوْدَ مُتَوَلَّدٌ فِيْهِ لاَ مِنْهُ
Dan semua najis yang telah berubah bentuk menjadi hewan itu suci, seperti darah telor yang telah berubah menjadi anak ayam, menurut qaul yang menganggapnya najis, meski ulat dari anjing. Sebab, sifat hidup itu mempunyai dampak nyata dalam menghilangkan najis. Oleh karenanya, maka najis itu hilang karena hilangnya sifat hidup. Selain itu, karena ulat itu lahir dalam diri anjing, bukan berasal darinya

COPYPASTE FACEBOOK FORUM GEMAS KEPRI