Penelitian Ilmiah buktikan penyembelihan cara Islam terbaik

08-Mar-07
Oleh Zuridan Mohd Daud

UMAT Islam seluruh dunia sudah merayakan Idul Adha. Ini merupakan suatu manifestasi semangat pengorbanan tinggi dimiliki oleh umat Islam. Pada hari Idul Adha pastinya terdapat pelaksanaan ibadah korban yang menjadi satu amalan sunah untuk memperingati pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Lazimnya musuh Islam menggunakan isu penyembelihan korban sebagai lambang keganasan umat Islam. Konon disebabkan kebiasaan menyembelih binatang, ada umat Islam yang berani menyembelih manusia. Barat termasuk aktivis hak asasi hewan menganggap perbuatan menyembelih hewan yang dilakukan umat Islam mempamerkan sikap tidak berperikemanusiaan dan keganasan karena banyak darah tumpah ke bumi terutama ketika pelaksanaan ibadah korban pada Idul Adha.

Malah, ketika kampanye antikeganasan dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Barat, mereka menggunakan alasan perlakuan korban ini sebagai satu daripada usaha mereka untuk membuktikan betapa Islam mengajarkan umatnya menjadi ganas.

Di Barat, undang-undang mereka menetapkan supaya hewan diberikan kejutan listrik di kepala sebelum dibunuh, kononnya untuk memastikan hewan itu pingsan terlebih dulu sebelum ia dibunuh. Selain itu, mereka mengklaim bahwa tindakan mereka itu bertujuan untuk mencegah binatang merasa sakit sebelum mati.

Tetapi, persoalannya apakah dakwaan dan pandangan Barat ini benar? Pendirian Islam mengenai apa yang boleh dimakan dan apa diharamkan adalah jelas yang dimaksud adalah daging.

Di dalam Surah al-Maidah ayat 5, Allah menyatakan: Diharamkan kepada kamu (memakan) bangkai, darah, daging babi, binatang disembelih karena yang lain daripada Allah, mati tercekik, mati dipukul, mati jatuh, mati ditanduk, mati dimakan binatang buas, kecuali sempat kamu sembelih).

Selain itu, Islam juga mengharamkan memakan daging hewan tanpa disembelih seperti mencekik leher, memukul dengan batu atau cara selain penyembelihan. Islam mengajar supaya penyembelihan dilakukan dengan pisau tajam untuk memotong bagian leher untuk memutuskan dua urat utama atau urat nadi. Sabda Rasulullah: (Dan apabila kamu menyembelih maka lakukan dengan baik dan hendaklah kamu menajamkan alat penyembelihan supaya penyembelihan rasa rehat – tidak terlalu sakit). Riwayat Imam Muslim.

Kaidah penyembelihan secara Islam dikatakan menyiksa hewan dikaji oleh pakar dari Jerman yaitu Profesor Wilhelm Schulze dan rekannya, Dr Hazim di Sekolah Kedokteran Veterinar, Universiti Hannover, Jerman. Tujuannya adalah untuk mencari cara terbaik proses mematikan hewan untuk mendapatkan daging bersih dan segar.

Penelitian itu berjudul, `Percobaan untuk mengukur tingkat rasa kesakitan dan kesadaran mengikuti cara konvensional dan agama ketika menyembelih lembu atau kambing’, menyimpulkan cara Islam terbaik karena lebih berperikemanusiaan.

Mereka menyimpulkan bahwa perlakuan mengenakan kejutan listrik ke atas hewan sebelum dibunuh seperti dilakukan oleh Barat, mendatangkan kesakitan pada hewan.

Dalam penelitian itu, beberapa alat ukur dipasang di pelbagai tempat pada otak hewan. Alat itu dimasukkan melalui pembedahan khusus dan hewan tersebut dibiarkan untuk pulih selama beberapa minggu.

Beberapa ekor hewan itu disembelih mengikuti cara Islam menggunakan tindakan pantas, memotong urat leher dengan pisau tajam. Beberapa ekor hewan lain dibunuh mengikuti cara Barat menggunakan Pistol Kejutan (CBP).

Ketika percobaan dijalankan, rekaman electroencephalograph (EEG) dan electrocardiogram (ECG) dicatat untuk mengetahui keadaan otak dan jantung semua hewan dimaksud ketika proses penyembelihan secara Islam dan kaidah CBP dilaksanakan di Barat.

Hasil percobaan diperoleh menurut kaidah Islam, tiga detik pertama ketika disembelih, EEG tidak mencatat perubahan pada grafik sama seperti sebelum penyembelihan. Keadaan itu menunjukkan bahwa hewan itu tidak berasa sedikitpun kesakitan ketika pisau memotong urat leher hewan tersebut. Untuk tiga detik kedua, EEG mencatat keadaan tidur atau tidak sadar diri. Ini disebabkan banyak darah mengalir keluar. Setelah enam detik, EEG mencatat paras sifar, menunjukkan hewan itu tidak sakit. Ketika pesan otak (EEG) jatuh ke paras sifar, jantung masih berdenyut dan badan hewan masih dapat bergerak akibat reaksi saraf tunjang, menyebabkan semua darah keluar dari badan hewan sehingga menghasilkan daging yang aman untuk dimakan, menurut penyelidikan itu.

Bagaimanapun, ketika mengkaji cara CBP, hewan dibuat pingsan dengan tembakan CBP dan EEG menunjukkan tanda-tanda amat sakit pada hewan itu.

Jantung hewan itu berhenti berdenyut lebih awal setelah terkena kejutan dibanding hewan yang disembelih. Keadaan itu menyebabkan banyak darah masih terkumpul dalam daging dan ia sebenarnya tidak aman untuk dimakan.

Penelitian terbaru juga menunjukkan cara mematikan hewan yang digunakan oleh Barat dan bukan Islam, turut dikatakan menjadi penyebab penularan wabah penyakit lembu gila dari hewan kepada manusia.

Hal ini dibuktikan melalui penelitian yang dijalankan oleh Universiti Texas A&M dan Agen Pemeriksaan Makanan Kanada. Mereka menyatakan, cara kejutan pneumatik (yaitu menembak bola besi ke otak lembu diikuti dengan mengenakan tekanan udara tinggi) menyebabkan kerusakan selaput otak serta saraf tunjang hewan itu.

Laporan ini amat mengejutkan karena selaput otak dan saraf tunjang adalah bagian yang paling rawan bila dijangkiti penyakit lembu gila dan apabila ia hancur akibat cara mematikan tersebut, bakteria serta protein penyakit lembu gila akan merebak ke daging.

Malah, lebih mengejutkan, cara ini digunakan lebih dari 30% hingga 40% lembu yang dimatikan untuk diambil dagingnya di Amerika Serikat. Penelitian lain yang dijalankan di seluruh dunia juga mendapati daging menjadi lebih lembut dibanding daging yang tidak disembelih menurut Islam seperti penelitian yang dilakukan terhadap ayam yang disembelih dan tidak disembelih.

Penelitian itu jelas membuktikan bahawa penyembelihan menurut kaidah Islam adalah cara yang terbaik bukan saja untuk kebaikan hewan itu sendiri tetapi juga memberi manfaat kesehatan kepada manusia.

Selain itu, Islam mengenakan beberapa langkah lain untuk memastikan penyembelihan ini dapat disempurnakan dengan lebih baik. Dalam aspek ini, Nabi Muhammad pernah mengarahkan supaya senantiasa belas kasihan terhadap hewan dengan memastikan pisau yang digunakan benar-benar tajam untuk mengurangi rasa sakit. Islam juga menjelaskan bahwa proses menyembelih perlu dilakukan dengan tepat untuk memutuskan saluran darah ke saraf otak karena saraf ini yang menghantar pesan kesakitan kepada otak.

Dengan itu, hewan tidak akan merasa sakit ketika disembelih. Pergerakan dan kekejangan yang terjadi setelah hewan itu disembelih, bukan akibat kesakitan tetapi akibat denyutan diikuti keadaan tenang. Proses itu menyebabkan darah dikeluarkan dari badan sepenuhnya, kata Dr Aisha El-Awady, yang menulis dalam Islamonline pada tahun 2003. Menjelaskan lagi proses penyembelihan Islam, Dr Aisha menyatakan, kaidah Islam juga memastikan saluran udara, kerongkong dan dua urat leher dipotong tanpa merusakkan saraf tunjang.

Kaidah ini memberi peluang darah keluar sepenuhnya dari badan hewan dan menghasilkan daging yang bersih”. Jika saraf tunjang terputus, fiber saraf ke jantung akan rosak menyebabkan jantung terhenti dan darah akan terkumpul di dalam daging. Darah perlu dikeluarkan sepenuhnya sebelum kepala dicerahkan. Keadaan ini akan membersihkan daging itu karena darah bertindak sebagai perantara kepada mikro organisma,” kata Dr Aisha dalam penelitiannya.

Dengan bukti ini, seharusnya aktivis hak asasi Barat berkampanye supaya menggunakan kaidah Islam ketika proses penyembelihan serta mengarahkan kecaman mereka terhadap kaidah selain daripada Islam yang terbukti kejam dan tidak berperikemanusiaan.

http://www.muslimsocial.com