Undang undang JPH tinggal menunggu waktu utk dilaksanakan, peraturan daerah mestinya segera menyesuaikan, karena permintaan masyarakat sudah jelas. Perlu adanya tempat makan yg halal dan jelas kehalalannya. Hal ini pernah dilontarkan oleh pengusaha kuliner ketika penulis bincang bincang dgn ibu ibu yg usaha jualan di meja meja di area sekitaran mesjid raya batam center, di sebelah Gedung DPR yg megah. Selain mestinya menggangu badan jalan, ketika pengunjung ingin belanja, pemandangan tersebut kurang nyaman, karena area inipun sering dijadikan pelancong utk ber foto ria utk menyatakan dirinya pernah sampai di batam, dibawah tulisan WELCOME BATAM, dan juga banyak masyarakat melepas penat di sore hari. Didepan Gedung Dewan juga berdiri megah kantor WALIKOTA BATAM, mestinya pelaku usaha ini mendapat perhatian khusus utk ditertibkan dan diakomodir dengan baik, dibuatkan AREA khusus utk berjualan terutama usaha usaha makanan, yg pastinya kudu Makanan HALAL. Karena bagi yg ingin spesifik meminta makanan tidak halal, bisa di cari juga di tempat yg khusus atau ditandai khusus. Bisa jadi di NAGOYA tempatnya, silahkan dibuat area khusus juga, karena mayoritas muslim di batam perlu di ajak utk mencari makan di tempat yg sudah jelas HALAL nya. Di negara tetangga malah lebih mungkin kita dpt tempat khusus dan perlakuan khusus seperti ini, tapi disini malah banyak yg tidak mau tahu kalau makanan yg dimakan bisa jadi tidak halal. jadi, ketika gerbang kedatangan sudah terbuka dari negara sebelah menghadapi MEA, apa kesiapan kita ? hanya siap dgn senyum welcome silahkan masuk ke pulau kami dan negara kami, makan sepuasnya kerja sepuasnya dan dagang sepuasnya, tapi lalu kita gigit jari, tidak dpt hasilnya karena mereka bawa makanan sendiri, pekerja sendiri, dan boleh berdagang apa saja bebas, karena kita sudah masuk ke iklim bebas, BEBAS apa saja … WELCOME BATAM perlu dibenahi, bukan hanya senyum saja, seminar lg, kampanye saja, tapi pelaksanaan dan anggaran nya dibatasi. hayu bapak bapak anggota dewan diperkuat peraturan nya, hayu bapak bapak pejabat di dinas pariwisata dan UKM ajak pelaku usaha berbuat nyata, bukan cuma mengikuti pelatihan pelatihan setiap saat, mengeluarkan budget APBD, tapi senyum kita berubah kecut dan kecewa ketika tanah kita, kuliner kita sudah terjajah lg oleh evaporia kita menyambut MEA.

sekilas dan sekelumit…saja

mudah mudahan ada langkah NYATA